Puisi penulisTOP.com -
Kala nyawa menjadi taruhan
Saat ketentuan telah ditetapkan.
Saat itu pula kepercayaan telah tersematkan
Aku malu jika terlahir sesederhana ini
Jika tak mampu menjadi abdi kamil
Sedangkan laut tak cukup, langit terlalu sempit sebagai hamparan karunia
Jika tak mampu menjadi abdi kamil
Sedangkan laut tak cukup, langit terlalu sempit sebagai hamparan karunia
Aku malu jika terlahir sesederhana ini
Jika masih membangkan, tak mampu membanggakan, membahagiakan
Sedangkan ragaku, bukankah darah daging kalian?
Jika masih membangkan, tak mampu membanggakan, membahagiakan
Sedangkan ragaku, bukankah darah daging kalian?
Aku malu jika terlahir sesederhana ini
Saat janjimu pasti, dan kehendakmu tak mungkin tak kau ketahui
Sedangkan hati masih lamban mengerti
Saat janjimu pasti, dan kehendakmu tak mungkin tak kau ketahui
Sedangkan hati masih lamban mengerti
Aku malu jika terlahir sesederhana ini
Jika tak mampu mengemban amanahmu
bila tak sanggup melukis senyum di bibirmu
dan jika tak bisa memberikan kado terindah untuk jiwaku
"Rabbi, thowwil umuri, washahih jasadi, waaktsir amwali, wahabibni linnasi ajmain."
Kediri, 16 September 2014
Jika tak mampu mengemban amanahmu
bila tak sanggup melukis senyum di bibirmu
dan jika tak bisa memberikan kado terindah untuk jiwaku
"Rabbi, thowwil umuri, washahih jasadi, waaktsir amwali, wahabibni linnasi ajmain."
Kediri, 16 September 2014
Judul : Cahaya di Balik Mendung
Penulis : Abdul Aziz Muhammad
Nama Fb : Abdul Aziz Muhammad
Blog : http://dholazez.blogspot.com/




0 komentar:
Silahkan Berkomentar
Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?