Cerpen penulisTOP.com - (Ini sekedar secuil catatan ringan tentang perjalanan di Madura. Hanya sebagian kecil pengalaman di pulau garam. Juga sebagai pembayaran hutang janji untuk beberapa teman Madura yang telah berkenan membimbing kami, menyambut kami sebegitu baiknya. Catatan ini bukanlah catatan utama yang ditulis dengan keseriuasan. Catatan yang lebih serius Insya'Allah berbentuk Cerpen yang rencananya akan ikut bergulat di perlombaan cerpen. Mohon do'a terbaik dari teman-teman. Maaf jika nama teman-teman nanti ada yang seenak hati saya comot menjadi salah satu nama tokoh dalam cerpen. He-he-he)
“Perjalanan orang yang resah. Bertemu dengan orang-orang yang resah. Bersapa pula kepada orang-orang yang diresahkan.”
Hari Sabtu dan Ahad kemarin roda mobil teman saya melesat tanggung menyusuri jalanan beraspal. Di dalam mobil ada 6 nyawa—termasuk saya, tapi belum termasuk supir—bergantung pada sang pengemudi. Daun-daun kering yang terpental diterjang mobil biru yang kami tumpangi nampak pasrah saja dilindas. Tujuan awal adalah berpantai-pantai ria di pantai Cemara Udang Lombang kabupaten Sumenep. Salah satu pantai yang terletak di pulau Madura.
Awal-mula sang sopir menjalankan mobil menyusuri jalan Surabaya kecepatan relatif santai. Namun setelah melewati jembatan Suramadu, sang supir mulai menunjukan taring. Hingga membuat rekan saya—si empunya mobil—berkali-kali merapal do’a supaya bisa tiba di tempat tujuan dengan selamat tanpa ada satupun goresan pada mobilnya (ini tebakan saya , buakan ramalan). Masuk di Pulau Madura mobil kami mampir pada sebuah lapangan yang sedang dihelat karapan sapi. Mata saya menyaksikan secara langsung perhelatan tradisi tersebut. Nanar sebenarnya menyaksikan proses persiapan sapi yang hendak dimainkan dalam kompetisi tersebut. Pantat sapi-sapi tersebut dipecuti terlebih dahulu hingga kulit pantat nyaris terkelupas, lalu diberi balsem. Katanya sih supaya lebihtrengginas ketika berlari. Ah, tapi entahlah.
Tak lama kami mampir di pagelaran karapan sapi tersebut. Sekitar 15 menit kemudian mesin mobil yang kami tumpangi kembali mengeluarkan kentut berasapnya. Tanda perjalanan harus segera berlanjut. Sekitar 1 jam mobil kembali memuntahkan penumpangnya. Kali ini bukan di lapangan Karapan Sapi, namun di sebuah tempat eksotis dan luar biasa indah. Dipenuhi dengan panorama pohon cemara serta semilir angin yang berhembus bawakan dendang laut, membuat kami menyerah untuk menahan senyum barang sedetikpun.
Maka setelah berfoto ria, tubuh rembes beraromakan keringat ini saya perkenankan untuk bergumul dengan ombak laut yang nampak ramah bersahabat. Dan yang membuat semakin bahagia adalah karena saya dan Hikam (Bocah putra rekan saya sang empunya mobil) sajalah yang bisa berbasah-basah ria tanpa memperdulikan segan atau harus basahnya pakaian. Tentu teramat yakinlah saya, teman-teman yang lain, yang bisa ikut serta di pantai namun tak menikamati ombak laut sembari berenang pastilah amat kurang puas mendapati ketidakmampuannya itu. Lah, wong saya saja, yang sempat berenang, nyatanya belum merasa puas kok, apalagi mereka yang bisa ke pantai namun tidak berenang pastilah teramat kurang puas. Ibarat menemukan emas, namun tak bisa mengambilnya. Setelah penuh matahari ditimbun malam, kamipun beranjak pulang menuju sebuah rumah sahabat, sang tuan rumah.
Selepas sholat Maghrib dan Isya’ teman-teman perempuan mulai bertumbangan di atas kasur hangat melepas capek. Sementara saya dan Mas Noevil—sang tuan rumah—menyusuri suasana malam kota Sumenep. Awal tujuan sebenarnya saya diajak melihat sebuah tempat bersebut taman bunga. Namun naas, entah imajinasi saya saja yang terlalu melambung membayangkan nama tempat bernama “Taman Bunga,” atau tempat itu sajalah yang beluam siap dibayangkan isi kepala pemuda sarat imajinasi terlalu tinggi seperti saya. Yang jelas rasa penasaran dalam kepala ini harus puas dengan ketidakpuasan setelah tiba di TKP.
Maka sayapun menantang sang tuan rumah untuk mengajak saya ke tempat yang lebih keren. Dan nama tempat keren tersebut langsung keluar dari mulut pemuda asli Sumenep tersebut, “Makam Raja-raja.”
Makam tersebut mendiami berhektar-hektar tanah di dataran tinggi. Karena teman saya saat itu tidak mengenakan celana panjang tersebut, maka mampirlah ia kepada juru kunci makam. Hendak bertanya, “apakah boleh kami masuk sementara di antara kami ada yang menggunakan celana tiga perempat?” maksud hati ingin sekedar bertanya, namun siapa sangka kami malah keasyikan ngobrol dengan penjaga makam tersebut.
Saya pribadi sangat salut dengan penjelasan yang diberikan oleh beliau tentang penjabaran pemakan tersebut. Intonasi suara beliau serta mimik wajah ketika menerangkan perihal kompleks makam-makam, sangat mendukung bagi mata saya untuk melupakan kantuk. Sorot matanya sangat menunjukan kesungguhan dan ketulusan dalam pengabdian pada tanah kelahirannya. Seolah beliau merasa memiliki tanggung jawab kepada saya dan Mas Noevil untuk paham dengan sejarah Sumenep dan Madura, padahal saya ini baru bertatap muka denga lelaki berpeci tersebut. Rasanya beliau lebih pantas untuk menyandang nama sebagai guru bergelar PNS, ketimbang guru-guru PNS yang kerap kali saya jumpai hanya tidur di dalam kelas ketika jaman masih SMA dulu—mereka hanya menyuruh kami mengerjakan tugas, lalu mereka sendiri tidur dengan muka ditutupi koran, jangankan mengajak kami para siswa untuk cinta membaca dan menulis, mengingatkan kami untuk rajin membaca saja nyaris tak pernah. Eits .. tapi tidak semua guru jaman SMA saya dulu bertindak demikian. Ada kok yang masih sangat baik dan peduli terhadap tumbuh kembang akhlak dan kecerdasan kami. Ya, walaupun jumlahnya tak banyak.
Awalnya obrolan kami ya seputar sejarah tentang makam tersebut. Dari pertanyaan “bangunan itu sudah berdiri sejak tahun berapa?” hingga “siapa saja raja-raja yang dimakamkan di kompleks pemakaman itu?” namun hingga larut malam obrolan kami pun merambah pada pengajuan opini masing-masing pribadi. Dan betapa terpelintir hati saya mengetahui bahwa kompleks bersejarah yang terletak di kota Sumenep itu, ternyata diberdayakan oleh warga kampung sekitar saja. Adapun peran aktif pemerintah setempat sangat minim kontribusinya.
Beliau juga mengatakan bahwa “untuk mendanai pemberdayaan kompleks kami sebagian besar bergantung pada sumbangsih dana peziarah atau wisatawan luar kota yang masih merasa peduli terhadap bangunan tersebut. Ya, walau tak jarang dalam satu rombongan Bus hanya lima ribu rupiah yang masuk ke dalam kotak.”
“Lantas, bagaimana Pak peran serta pemerintah setempat? Saya rasa APBD di sini teramat mustahil jika dikatakan tak cukup untuk dianggarkan ke dalam program pemberdayaan situs-situs bersejarah? Masak iya tak ada sama sekali?” tanya saya.
“He-he-he. Peran serta pemerintah memang ada Mas. Tapi apa cukup tujuh juta yang diberikan kepada kami tiap bulannya? Sementara kompleks ini luar biasa luas. Warga yang menyediakan diri untuk menjadi penjaga situs inipun ada sekitar 40 orang-an. Belum lagi terkadang dana yang seminim itu pernah sering juga sulit untuk cair?” ucapnya.
Sesekali beliau menyalakan kipas listrik kecil dekil di sebelah kirinya. Tak sampai satu menit beliau matikan lagi kipas tersebut, berkali-kali sembari melanjutkan obrolan. Maka, dari pengamatan tersebut saya membuat kesimpulan mengapa juru kunci makam di depan saya tersebut sering menyala-matikan kipas ;
Kondisi fisiknya sudah tak mumpuni lagi untuk berlama-lama terkena kipas angin tersebab terlalu sering begadang selarut malam berbincang dengan pelancong macam saya.
Beliau menghemat listrik supaya biaya yang dikeluarkan untuk membayar listrik bisa lebih dimaksimalkan lagi di keperluan lain.
Tentu saya juga teramat yakin bahwa lelaki yang ada di hadapan kami itu adalah orang yang rajin membaca. Itu terbukti dari pemilihan kalimat dan kata yang beliau lafalkan ketika berucap.
Maka setelah saya rasa cukup lama waktu kami habis berakrab ria dengan sang juru kunci. Saya mengajak kawan saya untuk undur diri dari hadapan beliau dan melanjutkan perjalanan masuk ke dalam pemakaman yang hanya ramai oleh jumlah batu nisan yang dibalut keramaian gelap malam.
Salah satu daerah pemakan yang kami masuki ini bahkan beberapa kali lebih luas ketimbang lapangan sepak bola. Adapun lampu, nampak jelas hanya sebagai formalitas keberadaannya. Dapat dihitung dengan jari. Tak sebanding dengan luas area pemakaman yang saya masuki. Sesuai dengan kebiasaan kami yang sama-sama orang NU. Maka saya dan pemuda asli Sumenep itupun duduk sekedar kirim do’a membaca surat Yaasiiin.
Entah siapa dan apa. Tiba-tiba terdengar oleh telinga saya suara benda jatuh dari atas mengenai atap makam yang dikijing tempat kami duduk. Tak hanya itu, terdengar pula oleh telinga saya suara pintu dibuka-tutup. Padahal di tempat kami membaca do’a tak ada satupun saya menjumpai pintu. He-he-he. Tapi toh, kami tetap cuek-cuek saja. Sok coolndak menghiraukan bunyi-bunyian yang makin rajin saja menyaingi suara kami membaca surat Yasin. Tapi, yang paling keren daripada itu, adalah langit malam yang nampak makin bersahaja lagi bijaksana membiarkan dirinya menjadi tempat singgah bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.
Namun, setelah keluar dari dalam salah satu kompleks pemakaman raja-raja itu hati ini terasa ngilu. Mendapati beberapa makam orang ternama yang direnovasi dengan menghilangkan bentuk aslinya. Yang barangkali suatu saat nanti generasi penerus akan memperdebatkan makam tersebut apakah benar-benar makam orang ternama? “jika itu benar makam orang ternama yang kami maksud, kenapa bentuk kuburannya lebih condong pada bentuk kuburan abad 20? Bukan abad 10? padahal orang ternama yang dimaksud hidup pada abad ke 10. Orang ternama yang dikuburkan di makam ini hanyalah fiktif. Tidak ada bukti konkrit.”
Dan betapa resah hati saya, ketika perjalanan pulang dari makam mendapat kabar dari pemuda Sumenep. Bahwa semenjak diselesaikannya pembangunan jembatan Suramadu, jumlah pemuda-pemudi yang sudah melakukan hubungan badan tanpa menikah melonjak drastis di Madura. Maka untuk kesekian kalinya saya melihat bayangan bendera merah putih di hadapan mata, putihnya makin mbladus, mangkak, dan kusam. Deremak Cong.
Wahai Joko Tole
Wahai Sakera
Bolehkan saya mulai pesimis
Pesimis untuk mengharap akan ada penerusmu lagi di pulau garam yang mulai kehilangan asinnya
====================
Judul : Catatan Dari Madura
Pengarang : Maulana Malik Ibrahim
Nama Fb : Maulana Malik Ibrahim




0 komentar:
Silahkan Berkomentar
Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?