Headlines News :
Home » , , » Di Balik 98; Flash Back yang Biasa-Biasa Saja dan Ending yang Luar Biasa

Di Balik 98; Flash Back yang Biasa-Biasa Saja dan Ending yang Luar Biasa

Diposting oleh Admin penulisTOP.com pada Senin, 09 Februari 2015 | 01.49

Cerpen penulistop.com - Anda pernah menonton film yang biasa-biasa saja? Saya sering. Dan, menonton film yang biasa-biasa saja, atau buruk, saya kira, akan membuat hidup Anda biasa-biasa saja. Datar. Mengalir. Di antara film biasa-biasa saja yang pernah saya tonton adalah Tabula Rasa, dan yang terbaru, Di Balik 98. Saya khawatir film Garuda yang sebentar lagi akan tayang di bioskop akan memperpuruk dunia perfilman Indonesia.

Saya paham dan bisa menangkap apa yang sesungguhnya diinginkan oleh Lukman Sardi dengan Di Balik 98-nya. Atau yang diinginkan Rizal Mantovani dalam Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh—karena film kedua diangkat dari salah satu novel yang sangat saya kagumi.

Biasa-biasa saja yang saya maksud dalam film Di Balik 98 adalah pada cerita flashback-nya. Yang pertama kali perlu dipertegas di sini adalah, ingat, bahwa Di Balik 98 bukan film sejarah, demikian yang sering disampaikan para aktornya. Menurut para aktor dalam sebuah kesempatan wawancara, Di Balik 98 adalah film tentang percintaan dan kisah perjalanan keluarga yang berlatar peristiwa Mei 1998.

Meski begitu, saya kira, memosisikan peristiwa 98 untuk hanya dijadikan sebagai latar—sehingga ia seperti digarap sekadarnya adalah hal yang amat ceroboh. Memang, bisa kita lihat bagaimana usaha Lukman Sardi dalam menghadirkan faktualitas 98 dalam film. Tapi, hemat saya, ia gagal.

Cerita bermula saat Daniel (diperankan Boy William) dan adiknya (mereka Chinese) yang saat peristiwa 98 mengungsi ke luar negeri demi keselamatan mereka, kembali ke Jakarta pada 2015. Mereka kembali untuk menabur abu kremasi almarhum ayah mereka di rumah kelahirannya di Jakarta. Saat itulah, cerita tentang masa lalu dimulai.

Saya tidak akan mereview secara mendalam karena kapasitas saya yang bukan sejarawan—atau untuk melakukan itu memang membutuhkan tenaga ekstra. Agaknya, kita sering bermasalah dengan logika cerita. Kita sering menceritakan sesuatu dengan tuturan yang melompat-lompat. Perubahan-perubahan yang kasar. Tentu itu sangat mengusik penonton (jika itu terjadi pada film) dan pembaca (jika itu terjadi pada novel).

Apa yang dimaksud logika cerita? Sederhana saja, gunakan rumus aksi-reaksi. Bahwa segala sesuatu, atau setidaknya pada hal-hal penting, yang dihadirkan dalam tiap scenes membutuhkan alasan. Contohnya, mengapa pribumi tidak suka terhadap Chinese, sehingga pribumi menjarah harta benda mereka?

Bahkan, dalam beberapa adegan, kehadiran alasan atas reaksi saja tidak cukup. Harus ada alasan yang kuat. Seperti ketika Salma yang sedang hamil besar memaksakan diri untuk mencari Diana (diperankan Chelsea Islan) ke Trisakti, sedang kondisi di sana sedangchaos. Mari berpikir, kau seorang perempuan yang sedang hamil besar, memiliki adik demonstran yang diburu aparat keamanan, apa yang akan kau lakukan; mencarinya ke tempat yang entah di mana—dengan kondisi hamil tua—atau menunggu kabar di dapur istana?

Yang berikutnya, film ini begitu berani bereksperimentasi dengan sejarah. Bayangkan saja, sejumlah nama-nama top tokoh nasional dihadirkan. Mulai dari Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Nurcholish Majid, SBY, Wiranto, Prabowo Subianto, Amin Rais, Ali Yafie, Emha Ainun Nadjib, Harmoko, dan beberapa nama beken lainnya. Dan saya rasa, Lukman Sardi kurang memedulikan pembangunan karakter dari tokoh-tokoh di atas, sehingga kehadirannya pun terasa ala kadarnya.

Kenapa begitu? Kau bisa enteng saja menjawabnya, karena ini bukan film sejarah—meski porsi penceritaan sejarahnya, saya kira, lebih panjang daripada porsi penceritaan tokoh utama film ini.

Saya menonton film ini dengan tidak begitu bergairah. Saya memahami, kapasitas Lukman Sardi cukup baik dalam memerhatikan detail pengambilan gambar, tapi tampaknya ia mempunyai masalah dengan detail alur cerita. Namun, ada satu bagian adegan yang tak bisa saya lupakan:

Setelah flashback selesai dan cerita kembali berlatar tahun 2015, di mana Daniel kembali ke Jakarta untuk memenuhi wasiat ayahnya, ia menyempatkan untuk berkunjung ke sekolah tempat Diana mengajar. Itu adalah pertemuan pertama setelah peristiwa 98. Saya harus jujur, scenes ini membuat saya merasa harus sungkem pada Lukman Sardi.

Bagaimana rasanya bertemu dengan kekasih yang telah berpisah (atau terpaksa berpisah, atau dipisahkan) selama 17 tahun? Dan, apa yang diharapkan oleh penonton dari pertemuan itu? Pernikahan? “Tidak,” kata Lukman. “Itu adalah cara mengakhiri cerita dengan buruk.”

Obrolan berlangsung akrab dan itu melambungkan harapan penonton akan akhir yang bahagia. “Kau tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan?” kata Diana, seolah menyimpan dendam atas sakit dan kerinduannya pada Daniel, pria yang ia cintai bertahun-tahun silam. Tapi, kemudian Diana mengenalkan anaknya yang sedang bermain di taman bermain.

Saya tersentak.

Diana telah memiliki dua anak. Demikian pula Daniel, mempunyai satu anak. Pertemuan itu tak ubahnya reuni masa lalu tentang kisah cinta yang begitu tragis. Itulah yang dimaksud dengan “Di Balik 98”.

===================
Judul : Di Balik 98; Flash Back yang Biasa-Biasa Saja dan Ending yang Luar Biasa
Pengarang : Syamsul Badri Islami
Nama Fb : Syamsul Islamy
Bagikan Tulisan ini :

0 komentar:

Silahkan Berkomentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?

 
Support : www.adakabar.tv | LAZADA | Anda
Copyright © 2015. penulisTOP.com - All Rights Reserved
Publikasikan Karyamu Di Sini Langsung Kirim Tulisan Jutaan Orang Akan Membaca Karya Anda