Headlines News :

Layang-layang Mimpi

Diposting oleh Admin penulisTOP.com pada Minggu, 08 Februari 2015 | 19.31

Cerpen penulistop.com -

“Assalamualaikum Mak?”

“Waalaikumsalam, kamu ngejar layangan lagi?” Tampak raut muka ibu memerah. Sepertinya sedang marah.

“Iya Mak, maaf kalau aku ngejar layangan lagi,” jawab Roni dengan lirih.

“Udah berapa kali emak bilangin, jangan ngejar layangan lagi, itu berbahaya!”Emak mencoba menjelaskannya dengan sangat hati-hati.

“Iya Mak!” Jawab Roni lirih. Mukanya tertunduk. Melihat kerumunan semut di lantai.

Seperti itulah keadaan gubuk tua di ujung kampung Pajikaran setiap sorenya. Roni yang menjadi murid di sebuah sekolah dasar di daerah itu selalu dimarahi emaknya. Tak pernah satu hari pun tidak terdengar suara Emak yang marah. Namun, sama seperti biasanya Roni meminta maaf, lalu besoknya tetap saja mengejar layangan lagi. Sampai-sampai pernah suatu saat pintu rumah digembok oleh Emaknya, namun ia tetap bisa keluar lewat jendela. Entah datang darimana semangat yang luar biasa untuk mengejar layangan itu. Sepertinya mengejar layangan merupakan kegiatan yang wajib ia kerjakan di setiap sore.

Setiap hari yang terdengar hanya suara Emak yang memarahi Roni, tidak terdengar sedikitpun suara Bapak. Memang biasanya Bapaklah yang ambil peranan masalah marah-memarahi anaknya yang nakal. Jangankan untuk mendengar Bapak Marah, melihat Bapak pun tidak pernah. Karena memang Bapak sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, disaat Roni baru bisa merangkak. Kata Emak, Bapak itu seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab, serta memiliki semangat yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Mungkin semangat itulah yang diturunkan Bapak kepada Roni.

Seperti biasa saat pulang dari sekolah, Roni tidak langsung pulang kerumah. Melainkan berangkat ke pasar untuk membantu Emak yang berjualan ketimun. Baru beranjak pulang ketika mulai terdengar adzan dhuhur dari masjid-masjid melalui corong TOA. Setelah sampai dirumah ia tidak langsung tidur siang seperti teman-temannya, melainkan mengulang pelajaran yang ia dapatkan di sekolah. Barulah setelah melaksanakan shalat ashar ia beranjak pergi dengan bambu panjang di tangan kanannya. Bertemu dengan teman-temannya di lapangan, dan beranjak pergi ke berbagai penjuru mata angin. Pematangan sawah menjadi objek yang biasanya dikunjungi. Duduk melihat pemandangan langit yang indah sembari bercerita dengan teman-temannya. Lumayan untuk menghilangkan penat seharian. Canda tawa saling mengisi kegundahan hati mereka.

“Itu 3 layangan putus, lari!!!” Mereka yang tadi duduk santai, tiba-tiba bangun dan berlari sekencangnya. Semangatnya ketika melihat layangan yang putus, layaknya para Sparta.

“Yang merah talinya panjang!!!” teriak salah seorang bocah berbaju loreng merah putih kebanggaan Madura.

Semua anak fokus mengejar layangan berwarna merah, karena menurut teori mereka yang talinya panjang akan semakin mudah untuk ditangkap. Walaupun akan banyak yang memperebutkan. Tidak dengan Roni yang tetap setia mengejar layangan berwarna biru. Ketika mengejar layangan semua mata pasti tertuju ke arah layangan. Tidak pernah memikirkan apa yang ada di depannya maupun apa yang akan dilewatinya.

“Brakkk…!” terdengar suara benturan yang sangat keras dari arah barat. Semua mata tertuju padanya. Terlihat seorang bocah berbaju kuning terkapar di jalan raya dengan darah segar membasahi bajunya. Pengendara vixion yang terjatuh langsung bangun dan segera melajukan cepat motornya. Meninggalkan bocah yang terkapar di jalan. Beberapa orang membantu membawanya ke Rumah Sakit, dan beberapa lagi berusaha mengejar pengendara vixion yang berusaha kabur.

Bocah-bocah yang tadinya mengejar layangan berwarna merah mulai berlarian menuju kerumah Roni, memberitahukan Emak bahwa Roni kecelakaan. Ditabrak lari tepatnya oleh pengendara motor. Emak yang saat itu baru selesai shalat, langsung beranjak pergi ke tempat kejadian bersama teman-teman Roni. Berlarian menuju Rumah Sakit yang tak jauh dari rumahnya dengan mukena masih melekat di badannya. Tampak air mata bercucuran, beserta ucapan istighfar yang tak pernah lepas dari bibirnya yang sudah mulai mengkerut.

Mungkin ini yang dibilang ‘The Power of Kepepet’ oleh orang-orang, Emak berlari sangat kencang dan tak mengenal lelah. Meninggalkan jauh teman-teman Roni. Padahal Irwan yang merupakan atlit PORDA pun merasa kelelahan dan tertinggal jauh dibelakang.

***

Entah keajaiban tiba-tiba hadir di sudut UGD malam ini, tepat jam 2 dini hari. Ketika Emak melaksanakan shalat tahajjud tiba-tiba Roni memanggil. Seketika itu juga Emak terperanjat dan langsung menghampiri putra kesayangannya yang mulai membuka mata. Disertai senyuman kecil darinya yang membuat tangisan Emak terhenti.

“Maafkan Roni kalau tidak pernah dengarkan nasihat Emak. Ini semua Roni lakukan untuk menambah biaya masuk SMP nanti. Roni mengejar layangan untuk bisa dijual. Uangnya Roni tabung,” Roni berusaha menjelaskan dengan suaranya yang lirih.

“Tapi tidak dengan ini Nak, kalau kamu mau masuk SMP favorit, kamu harus banyak belajar. Agar bisa masuk tanpa tes dan gratis. Mereka membutuhkan kepandaian, bukan uang,” Roni mengangguk pelan.

===================
Judul : Layang-layang Mimpi
Pengarang : Noevil Delta
Nama Fb : Noevil Delta
==>
Cerpen ini pernah dimuat di salah satu koran Madura pada tanggal 27 Juni 2014
Bagikan Tulisan ini :

0 komentar:

Silahkan Berkomentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?

 
Support : www.adakabar.tv | LAZADA | Anda
Copyright © 2015. penulisTOP.com - All Rights Reserved
Publikasikan Karyamu Di Sini Langsung Kirim Tulisan Jutaan Orang Akan Membaca Karya Anda