![]() |
| Syamsul Badri Islami |
Review Film penulisTOP.com - Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ), sebagai sebuah novel dan juga film, memiliki satu hal yang pokok. Sebuah gong. Klimaks. Yang klimaks tersebut merupakan titik cahaya yang kemudian memancar dan beremanasi menjadi rangkaian pristiwa utuh hingga Supernova ada.
Jika di film, gong itu sepertinya tak terlalu tampak (kecuali jika kau sangat cermat atau sudah menonton filmnya lebih dari sekali). Penonton lebih dibawa oleh hentakan demi hentakan yang, sangat khas Dee[1], memukau secara teratur atau tepat pada waktunya. Jika Anda pernah membaca novelnya, lalu mencermati filmnya, tentu Anda akan menemukannya.
Gong itu tepat ketika Dimas dan Reuben--yang menulis Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh--secara mengejutkan, mendapat email dari Supernova--yang merupakan bagian dari cerita rekaan mereka sendiri.
Yang itu kemudian membuat mereka tersadar, bahwa mereka bahkan adalah bagian dari konstruksi Supernova (kita bisa menganggap bahwa Supernova adalah tokoh sentral, tetapi nisbi, sehingga tokoh utama dalam bangunan cerita adalah Ferre, meski ia hanya objek cerita Dimas dan Reuben).
Hal itu semakin menyadarkan mereka tentang eksistensi manusia. Kesadaran itu muncul sejak adanya pemikiran:ternyata kita adalah bagian dari cerita. Lalu, bagaimana kalau cerita itu tamat? Habislah kita. Kita hidup dalam alam pikiran sang penulis. Narator!
Di situlah, saya kira, pokok apa yang ingin disampaikan oleh Dee Lestari. Sebuah konsep, perspektif, paradigma, yang secara memukau ia kemas dalam cerita. Lalu, mari kita breakdown satu per satu adegan yang menurut kita ‘mengganjal’ atau masih diselubungi tanda tanya.
Pertama, kenapa tokoh gay (Dimas dan Reuben) dipilih menjadi karakter dalam cerita Supernova KPBJ? Saya kira pemilihan karakter ini sangat spekulatif, radikal, dan semacam dilakukan dalam ‘kemarahan’. Pasti, saya yakin, hampir semua penonton yang menyaksikan adegan Dimas dan Reuben yang gay akan merasakan jijik.
Tetapi, dengan penjelasan yang santai-santai saja, tidak terlalu tendensius, Supernova KPBJ memberikan pembelajaran, sebagaimana yang sudah dibedah sedari awal, bahwa kita hidup dalam pikiran narator. Ini kemudian menjadi rawan untuk diseret-seret dalam perdebatan takdir. Namun, mari kita hindari saja hal yang mencapekkan itu.
Bahwa orientasi seks, entah bagaimana penjelasan secara ilmiahnya, bisa jadi merupakan given. Lalu, apa? Mau apa? Narator (dalam arti pengendali cerita, yang dalam film ini, bisa jadi Supernova ataupun penggubah utama) ‘menakdirkan’ mereka, yang gay, yang kau benci, yang membuatmu bergidik, menjadi wakil untuk menarasikan cerita Ksatria, Putri dan, Bintang Jatuh.
Kedua, yang perlu ditegaskan adalah, bahwa masing-masing dimensi cerita dalam Supernova KPBJ ini (ternyata) independen. Ferre dan Rana bukanlah manifestasi cerita yang dibikin oleh duo Dimas dan Reuben. Kedua hal tersebut adalah dua peristiwa yang kebetulan sama, bebarengan, dan, mungkin, terhubung atau dihubungkan oleh sang Cyber Avatar. Di sini, tampaknya kita tidak mendapatkan apa-apa kecuali pengejawantahan pesan paradigma yang diusung Dee: keutuhan.
Ketiga, pada saat Rana memutuskan untuk tetap bersama Arwin, Ferre mengalami kehancuran yang membuat dirinya ingin bunuh diri (bunuh diri di sini diceritakan dengan sangat logis bagi karakter Ferre, bagaimana ayahnya kabur dengan perempuan lain--dan Ferre juga hampir kabur dengan istri orang lain, dan bagaimana ibu Ferre yang bunuh diri mendapati kenyataan itu--maka apa yang ia putuskan untuk bunuh diri, adalah persamaan apa yang telah kedua orangtuanya lakukan)[2].
Lalu, teori apa yang membuat usaha bunuh diri Ferre menjadi gagal? Kucing dalam kotak dengan pil yang bisa membuat ia mati suri? Silakan dielaborasi sendiri part ini. Tapi, yang pasti, lagi-lagi ini semakin menegaskan peran narator atau Supernova dalam alur cerita. Jika Supernova belum ingin Ferre mati karena cerita belum usai, maka apa pun bisa terjadi, termasuk menggagalkan upaya bunuh diri Ferre.
Jika melihat dari beberapa karakter tokoh dalam Supernova KPBJ ini, tampaknya Dee telah berhasil menciptakan tokoh-tokoh yang, ya, berkarakter. Sehingga cerita bisa berjalan dengan alur yang sangat kuat.
Dan pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa film Supernova KPBJ ini cukup digarap dengan baik oleh Rizal Mantovani. Meski terdapat kekurangan di beberapa part, namun kita bisa melihat kerja kerasnya menghadirkan nuansa yang tak jauh dari sensasi ketika membaca novel. Itu, tentu, bukan pekerjaan yang mudah. []
[1] Meski Dee mengonfirmasi bahwa ia tidak memiliki keterlibatan sama sekali dalam proses penggarapan film yang diangkat dari novelnya tersebut, kecuali diskusi pra produksi. Dan kita bisa lihat usaha sutradara mencita-raskaan film ini benar-benar sesuai dengan novelnya.
[2] Bunuh diri dalam cerita menjadi sangat logis yang saya maksud adalah, bahwa bunuh diri bukan hanya soal buta mata hati atau tidak, paham agama atau tidak, neraka atau tetap hidup, atau beriman atau tidak, tetapi lebih dari itu. Orang yang melihat sesuatu hitam-putih, tanpa narasi cerita atau kronologi, kebanyakan akan mendakwa bahwa bunuh diri adalah sesuatu yang buruk; yang berarti orang yang bunuh diri adalah buruk; dan cenderung mengabaikan pertanyaan: mengapa ia bunuh diri? Kesulitan apa yang dialami.
=====================
Judul : Membedah Supernova
Penulis : Syamsul Badri Islami
Nama Fb : Syamsul Islamy




0 komentar:
Silahkan Berkomentar
Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?