![]() |
| Abdul Aziz Muhammad |
Anehnya, di rumah sakit ini para dokter spesialis otak menyatakan hal yang berbeda. Katanya, diriku tidak menderita kangker otak, akan tetapi aku mengidap penyakit gagal syaraf. Akibat benturan keras saat aku terjatuh dari tangga sewaktu aku masih mondok setahun yang lalu. Waktu itu aku mendapat kabar dari pengurus bahwa keluargaku datang. Aku langsung lari terburu-buru menuruni tangga yang basah akibat sisa air hujan. Sarungku terinjak, dan aku terjatuh dari tangga setinggi tujuh meter. Kepalaku terbentur keras. Darah segar pun memerahkan wajah dan pakaianku. Ternyata bekas benturan itu tumbuh menjadi syaraf berbeda dengan lainnya. Hal itu yang menyebabkan kepalaku terasa sangat sakit. Sampai-sampai, ketika rasa sakit itu datang, hidungku mengeluarkan darah merah kehitam-hitaman. Singkatnya, pihak rumah sakit Jakarta pun angkat tangan dan menganjurkan agar aku segera dibawa ke rumah sakit luar negeri.
Sebulan yang lalu Umi membawaku ke Singapura. Tujannya tak lain adalah mencarikan obat untuk kesembuhanku. Beliau rela meninggalkan pekerjaannya dan meminta Cak Anom karyawan senior untuk mengurus segala pekerjaan di perkebunan. Perkebunan Teh seluas 100 hektar, warisan Abah sebelum beliau meninggal setahun yang lalu. Beliau berpesan kepada Umi untuk senantiasa menjaga dan merawatku dan perkebunan teh yang mereka rintis berdua dengan sebaik-baiknya. Makanya Umi begitu intens dalam menjalankan amanah dari Abah. Karena Umi yakin bahwa Abah akan tenang dan bahagia di sisi Allah jika amanah yang diberikan kepada istrinya dapat dilaksanakan dengan baik. Serta dalam lubuk hati Umi meyakini bahwa amanah yang diberikan suaminya bukanlah tanpa alasan. Umi meyakini dengan menjalankan amanah Abah merupakan wujud baktinya seorang istri kepada suaminya. Semoga barokah, tandasnya.
Di Singapura aku dirawat di rumah sakit terkenal. Fasilitasnya lengkap dan dokter-dokternya lebih profesional. Aku menjalani perawatan yang sangat intensif. Tidak satu orang pun yang diizinkan masuk menemaniku kecuali tim medis yang merawatku. Karena berdasarkan diagnosa, ternyata aku mengalami komplikasi. Antara penyakit kangker otak menjalar menjadi gagal syaraf otak. Umi begitu cemas dengan keadaanku. Beliau sangat kawatir akan kesehatanku. Sampai-sampai Beliau rela menghabiskan waktu dan tenaganya demi menyembuhkan penyakitku yang tak kunjung pergi. Apalagi setelah Dokter Spesialis Syaraf Otak rumah sakit ini mengatakan operasinya gagal. Harapan hidupku tak lebih hanya tinggal sebulan lagi, katanya. Umi tampak sedih, layu wajahnya tergambar jelas dengan cekungan mata yang kelelahan meneteskan airnya. Pihak rumah sakit pun merujukkan agar aku segera di bawa berobat ke Jerman. Kami pun berangkat ke Jerman.
Tanpa sempat kembali ke tanah air, aku dan Umi langsung terbang menuju Jerman. Lebih dari lima jam aku habiskan waktu di dalam pesawat. Bersama dengan Umi yang selalu sabar dan penuh kasih sayang menemaniku tak kenal waktu. Sesekali Umi tersenyum memandangku. Bibir manisnya menguatkanku dengan tutur kata yang lembut penuh rasa cinta.
“Yang sabar ya nak... yang kuat. Sebentar lagi kita sampai. Kamu pasti sembuh dan sehat sedia kala. Nanti kalau sudah sembuh kita akan pergi umroh bersama.” Tutur Umi menguatkan hatiku.
Tepat pukul 16.00 waktu setempat kami mendarat di Bandar UdaraInternasional Frankfur. Bandara terbesar di Jerman dan salah satu bandara dunia yang menggunakan sistem pengurusan bagasi otomatis mulai pada tahun 1972. Kami pun langsung menuju rumah sakit yang terletak di pusat kota.
“Alhamdulillah, akhirnya kita sampai.” Guman Umi sembari mendorong aku yang duduk lemas di kursi roda menuju rumah sakit.
Setelah registrasi, aku langsung di bawa keruangan UGD. Suster berperawakan putih dan tinggi semampai mendorong kursi rodaku dan Umi berjalan mendampinginya. Kami sampai di ruang UGD. Aku dan suster masuk dalam ruangan. Sedangkan Umi tidak diperkenankan masuk. Beliau menunggu di luar ruang berteman tasbih kecil. Sesaat kemudian datang Dokter yang berbadan tinggi tegar masuk memeriksaku. Memastikan kembali hasil diagnosa selama dirawat di Singapura yang telah diberikan Umi sewaktu registrasi. Dengan menggunakan Stetoskop, Dia memeriksa detak jantungku. Tidak jauh beda dengan dokter-dokter di Indonesia. Dia menyuruhku untuk membuka mulut. Senter kecil menerangi rongga mulutku. Kemudian mataku yang menjadi sasaran sentir kecil itu. Aku tak tahu apa maksudnya. Setelah memeriksa, dokter pun keluar. Tak terdengar sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Hanya senyum ramah yang begitu santun mengembang. Soalah mengucap salam padaku.
Entah apa hasil yang didapat dokter setelah pemeriksaan tadi. Tidak lebih dari sepuluh menit, aku dipindahkan ke ruangan yang berbeda. Tampak dengan jelas raut muka Umi yang begitu sedih. Tetesan air matanya tak mampu menipuku. Seolah menerjemahkan bahwa memang begitu ganasnya penyakit yang menggrogoti tubuhku. Umi mendekatiku. Mencium keningku. Menggenggam tanganku yang lemas. Mencium kedua pipiku. Suara lembutnya membisik telingaku. “Yang kuat ya nak... yang sabar.” Aku di bawa ke ruang operasi.
*****
Sepulang dari Jerman.
Di saat diriku tak berdaya melawan takdirMu. Hanya tasbih kecil yang setia menemani hari-hariku. MenyebutMu, mensucikanMu, memujiMu dan mengagungkanMu. Dengan hati penuh harap, Engkaukan menyayangiku, memperpanjang hidupku untuk lebih lama bernafas menghirup udaraMu. Agar diriku mampu menjadi manusia yang baik bagiMu. Bermanfaat bagi yang lain, khusunya untuk Umi, keluargaku dan agamaku. Aku hanya bisa pasrah, menanti suara terompet Isrofil berbunyi khusus untukku. Ingin sebenarnya diriku membungkam mulutnya. Biar sangkakala tak berbunyi untukku. Namun apa daya, semua hasil pemeriksaan menyatakan kalau umurku tidak panjang lagi.
Sedangkan Umi, setiap hari dengan sabar merawatku. Menasehatiku dengan tutur kata yang lembut. “Yang sabar ya sayang..., yang ikhlas. Yakinlah semua penyakit pasti ada obatnya. Sebut namaNya, dikala senang atau sedih. Agungkan namaNya. Tak ada yang tidak mungkin buat Allah.” Tutur Umi sembari mengelus kepalaku dan kecupan hangat hinggap di keningku. Aku tersenyum mengangguk, namun air mata ini perlahan menetes. Aku merasa menjadi anak yang tidak berguna yang tak mampu membahagiakan orang tua.
Pikiranku melayang, teringat tingkah polahku dua tahun silam. Semenjak aku lulus SMP, aku hendak disekolahkan di lingkungan pesantren oleh Umi. Tetapi aku menolak, dengan alasan kurang bebas, dan lingkungan pesantren itu ketinggalan jaman. Aku merayu Abi untuk diizinkan melanjutkan di SMK Bogor 1. Sekolah Menengah Kejuruan yang terkenal elit di daerahku. Abi pun mengizinkan. Aku mengikuti pendaftaran PSB dan berhak melaksanakan tes masuk. Malangnya saat pengumuman PSB, namaku tidak terdaftar. Aku tidak masuk di sekolah yang aku impikan. Akhirnya aku pun mendaftarkan diri di SMK Bogor 5 yang lebih dekat dengan rumahku dan aku diterima.
Sebenarnya Umi masih tetap tidak setuju dengan keinginanku. Karena menurut Umi, sekolah di SMK itu terlalu bebas. Apa lagi jika salah bergaul dengan anak-anak yang kurang berpegang agama. Bisa-bisa salah jalan. Umi kawatir aku akan terpengaruh dengan mereka yang suka tawuran, rokokan, suka mbolos, suka pacaran, suka balapan, dll. Pokoknya Umi tidak setuju jika aku sekolah di SMK. Beliau lebih setuju kalau aku dipondokkan di pesantren. Namun dengan rayuanku kepada Abi, akhirnya Abi memberikan penjelasan yang meluluhkan hati Umi. Maklum, aku adalah anak kesayangan Abi.
Belum sampai satu semester masuk di SMK, ternyata benar apa yang dikawatirkan Umi. Aku hanyut oleh pergaulan yang bebas. Aku masuk dalam lingkaran Genk Poison. Genk yang aku bentuk dengan teman-temanku. Awalnya Cuma buat iseng-iseng, tetapi lama-kelamaanPoison tumbuh besar dengan ketangguhannya. Badanku yang kekar dan tubuhku yang tinggi mengakibatkan aku ditunjuk sebagai ketua Genk. Apalagi ditambah dengan latar belakangku sebagai anak tunggal pemilik perkebunan terluas di daerah ini. Teman-temanku mengelu-elukan diriku. Aku terbuai dalam tingginya sanjungan yang mereka pujikan.
Selama setahun lebih sekolah di SMK kenakalan demi kenakalan telah aku lakukan. Mulai dari mbolos sekolah memilih pergi ke base campyang kami kontrak. Sampai tawuran dengan siswa SMK Percepatan. Orang tuaku sering dipanggil menghadap kepala sekolah karena ulah yang aku perbuat dengan teman-temanku. Abi yang datang, aku hanya dinasehati untuk tidak mengulangi perbuatan tercela lagi. Sedangkan Umi marah besar. Sesampai di rumah pasti Abi dan Umi bertengkar gara-gara aku.
Umi menyalahkan Abi yang terlalu memanjakan aku. “Ini semua salah Abi, Abi terlalu memanjakan Rendy. Coba kalau Abi tidak nuruti kemauan Rendy sekolah di SMK. Pasti semua ini tidak terjadi.” Wajah Umi memerah melepaskan segala kemarahannya kepada Abi.
Abi hanya diam. Sesekali Abi berbicara menenangkan Umi. “Sabar Mi, namanya juga anak cowok, nakal sudah biasa.” Jawab Abi enteng seolah tak begitu menghiraukan.
Hati Umi tambah getir-getir, beliau tidak mau kalah, terus menyerang Abi dengan alasan-alasan dan kekawatirannya kepadaku. “Abi itu bagaimana? Anak mbolos, tawuran kok dibilang biasa?” wajahnya tambah memerah. Mungkin seandainya Umi mempunyai bulu jenggot pasti sudah terbakar sejak tadi.
“Abi apa tidak takut kalau Rendy lebih nakal lagi?” ucap Umi belum puas dengan jawaban Suaminya.
“yang sabar Mi, kita doakan semoga Rendy cepat berubah. Umi jangan berkata yang tidak-tidak.” Tutur Abi kepada Umi sambil memegang kedua bahu Umi. Sementara itu aku langsung tertidur di kamar. Kepalaku begitu sakit tak tahu kenapa.
*******
Petaka pun datang menghampiri keluargaku. Abi jatuh sakit, Jantungnya kambuh saat mendengar kabar kalau aku diciduk polisi. Aku bersama lima anggota Genk Poison di razia oleh polisi. Saat kami mbolos gara-gara kami kesiangan menanti Aldey anggota Poison yang belum datang berangkat sekolah. Memang sudah menjadi kesepakatan kami, untuk berkumpul di base camp sebelum berangkat bersama-sama kesekolahan. Akhirnya Aldey mengusulkan untuk mbolos dan pergi salah satu tempat pegunungan. Kami pun mengikuti usul Aldey. Aku, Aldey, Willy, Fathur, dan Ijal, berangkat bersepeda motor sendiri-sendiri. Aku dengan Honda CBR putih berangkat dahulu. Karena saat yang bersamaan, Mitha pacarku juga mbolos. Kebetulan sekalian aku ajak mbolos bareng-bareng sama teman-teman. Rupanya semua ini sudah direncanakan oleh Aldey. Semua memang sudah disetting agar terlambat sekolah dan akhirnya bisa mbolos bersama-sama. Buktinya mereka, Aldey, ijal, Fathur dan Willy sudah siap membonceng pacarnya masing-masing. Busyed.... aku dikerjain anak buahku. Tetapi tidak apa-apa. Yang penting Happy.
Kami sampai dipegunungan, suasananya sepi karena memang masih pagi, masih pukul 07.30. kami memilih posisi berpisah. Tidak jauh, mungkin sekitar sepuluh meter jaraknya. Dengan posisi yang berjauhan seperti ini kami tidak merasa risih jika mau ngapa-ngapain berdua di atas sepeda motor.
“Duuooorrrrrrrr................,” suara tembakan terdengar keras meledak. Ternyata kami ketahuan polisi yang sedang beroperasi. Aku bingung, untungnya Aku dan Mitha tidak sampai melakuannya. Kami melepas pelukan, dengan posisi seragam masih utuh. Mungkin bibir kami saja yang kelihatan basah bertukar ludah. Tetapi bagaimana dengan Aldey, Willy, Ijal dan Fathur? Kami semua digiring di atas mobil polisi. Dengan kedua tangan saling diborgol. Aldey dan pacarnya yang parah. Dia belum sempat membenahi trasleting dan sabuk celananya. Bau anyir membasahi selakangan ditambah kancing baju pacarnya yang terbuka dengan bekas gigitan di dada.
Saat itu juga orang tua kami dipanggil ke kantor polisi. Abi dan Umi datang bersama orang tua teman-temanku dan kepala sekolah.
“Plak....plak....,” Dua tamparan dari tangan kanan Abi melayang memanaskan pipiku. Abi tidak banyak bicara, Beliau langsung masuk kedalam ruang polisi bersama Umi dan kepala sekolah. Kami mendapat peringatan tegas. Aku tidak ditahan, karena memang saat digrebek tadi, aku belum sampai melakukannya. Tetapi saat itu juga, kepala sekolah mengeluarkanku. Meski surat resmi belum keluar. Saat itulah, kesehatan Abi menurun drastis sampai ajal menjemputnya.
Mulai kejadian naas itu. Aku dan Mitha sengaja diputus oleh kedua orang tua kita. Aku dipondokkan di Lirboyo Kediri. Sedangkan Mitha entah dimana. Sampai saat ini aku tidak mengetahui kabarnya. Tidak terasa air mataku menetes, meratapi masa laluku. Begitu durhakanya diriku kepada kedua orang tuaku.
Bersambung.... (22012014)
=================
Judul : Membungkam Mulut IsrofilPenulis : Abdul Aziz Muhammad
Nama Fb : Abdul Aziz Muhammad
Blog : http://dholazez.blogspot.com/




0 komentar:
Silahkan Berkomentar
Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?