Cerpen penulistop.com - Merisa nur sholihah yang menjadi salah satu MT dan Motivator wanita tersukses ini berasal dari Indonesia, Ia dilahirkan pada tanggal 15 agustus 1996 di Madura, Risa lahir dan tumbuh di Madura dalam sebuah keluarga sederhana. Orangtua Risa adalah seorang pegawai negeri dan ibu rumah tangga. Ia merupakan anak ke-4 dari 6 bersaudara. Perjalanan hidup Risa di Pesantren gadingmangu, perak, Jombang berawal ketika duduk di bangku SMP. Cita-cita untuk menjadi sang penyampai (MT). Ia kemudian memilih sekolah di SMA BUDI UTOMO Perak, Jombang, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bapak Risa memutuskan untuk mengirim anaknya belajar di luar kota. Dan Jombang kala itu merupakan sebuah pilihan yang paling masuk akal karena jaraknya yang relatif dekat, lingkungan yang aman dan sistem pendidikan yang bagus.
Risa mulai belajar di bangku SMA di jalur KELAS KHUSUS tahun 2011. Risa mengaku jalur ini menjadi jalur paling masuk akal baginya saat itu. Risa bercita-cita menjadi seorang Penyampai (MT). Cita-citanya tersebut didasari karena ingin memberi mahkota ke pada ke dua orangtuanya di kehidupan yang lebih kekal (Akhirot). Tanpa persiapan yang memadai untuk sekolah di SMA BUDI UTOMO, Risa sempat gagal dalam kelas-kelasannya. Tanpa persiapan bekal mental yang memadai pula, Risa mengikuti bimbingan psikologi yaitu sensitive training “tune in heart”. Ia mengikuti bimbingan itu dari Pembina kelas khusus dan salah satu syarat untuk bertahan di forum itu ia harus bisa ikut tes saringan sebelum kelas 3 semeter 2 dan memiliki skala prioritas.
Mental tersebut sangatlah minim, karena dari sekian banyak anggota Risa merupakan 1 dari 2 orang anggota yang belum bisa tes saringan. Setelah mengikuti beberapa season hingga bulan ke 6 dan masih duduk di kelas 2 kela pengajian. Untuk slalu bersmangat, Rosa menyiasatinya dengan mengkhatamkan makna Qur’an hadist sebelum kelas 3, ikut mangkulan, berangkat awal ke sekolah dan mulai menghafal doa-doa dsb di green house di pagi hari demi ada peningkatan, bahkan untuk bacaan ia terkadang deres al-qur’an dan disimak oleh pak mimin, seorang penjaga taman green house. Tak jarang Risa simak menyimak bacaan al-qur’an sembari beliau menyiram tumbuh-tumbuhan di green house. Hal itu berangsur hampir setiap hari di bulan pertama di mana Risa mulai berkomitmen dengan dirinya sendiri. Kehidupan yang sangat memprihatinkan tersebut mendorongnya untuk mencari penyimak bacaan atau mangkulan di luar sana. Dari mulai jam kosong sekolah meminta teman untuk menyimak bacaannya, jam malam tidurnya untuk mangkulan dan mendekati guru kelas-kelasan.
Ketika menyadari hidupnya tak banyak mengalami perubahannya meski sudah memasuki bulan ketiga di kelas 2 kelas-kelasan, Risa mulai membangun mimpi.
“Saya membuat resolusi ketika tahun ke-3. Saya harus bisa saringan sebelum UN kelas 3. Dengan kata lain, harus jadi seorang MT. tune in heart in my life membuat saya ingin mewujudkan mimpi tersebut,” ujar Risa.
Karena tak punya latar belakang mental yang kuat, Risa mengumpulkan informasi dengan bertanya kepada teman-temannya yang sudah jadi MT dan melibatkan allah di dalam semua perkaranya serta tak lupa selalu memnta doa kepada kedua orangtuanya.
Tanpa pengalaman dan mental yang memadai, Risa tetap bertahan di “tune in heart”. Itu ia lakukan karena ia mengetahui bahwa memiliki mental dan mengenali siapa dirinya akan lebih mudah fokus dan mampumenyeimbangkan antara perasaan dan logika, perasaan dan permasalahan, bahkan antara ke inginan dan kebutuhan. Dan di bangku kelas 3 SMA semester 1 ia bisa mengikuti tes saringan. Namun, baginya MT biasa tidak cukup untuk menjadi MT yang faham, faqih, alim, dan barokah serta profisional dan religius. impiannya untuk sukses menjadi MT yang FFAB yang profesional dan religius di usia 17 tahun. Ia mencoba berbagai peluang wawasan. Dia pun mencoba untuk siap berproses dalam tahap “KUPU-KUPU” yang menjadi ULAT untuk siap di benci, Kepongpong yang siap bersabar, dan jadilah KUPU-KUPU YANG SIAP MENGEPAKKAN SAYAPNYA YANG INDAH, dari mulai puasa bicara kepada saudara tune in heart serta pembina yang sudah ia anggap bapak, yang semuanya berakhir dengan kekecewaan karena tidak sesuai dengan rencana yang diharapkan. Risa juga mencoba untuk mencari celah kesalahan-kesalahan tanpa melihat kebaikannya. praktiknya dengan mem-feedback meski akhirnya ia harus keluar dari ruangan pertemuan itu. Risa bahkan pernah dijuluki orang teraneh. Mentalnya sempat jatuh meski dalam kondisi tersebut masih bisa menyelesaikan tahap kupu-kupu, Risa merasa bersalah. Dan Risa kembali bangkit dan berusaha keras untuk meminta maaf langsung kepda mereka dengan tanpa alasan. Risa mulai berusaha mencari orang baru untuk menyayanginya dan melanjutkan Tahap bersabar dengan membingbing saudara tune in heart yang bernama dewi untuk bisa masuk kelas pra saringan. Hingga pada akhirnya hal itu akhirnya tercapai, meski awalnya banyak celutakan dari beberapa orang “Mungkinkah itu terjadi?” karna ke banyakan dari mereka hanya menilai dari sisi materi. Namun bagi Risa sudut pandang hidup itu tidak hanya materi, selama takdir itu belum di depan mata masih bisa di perjuangkan. Dengan cara bersungguh-sungguh dan mulai merancang area netral dan kolom permasalahan. Setelah merasa ada perubahan dalam menerima dan menyikapi cacian yang tidak beralasan, ia pun memutuskan untuk menekuni perencanaan tahap kupu-kupu. Risa berpikir itulah hal yang akan membuatnya mampu mewujudkan impiannya dalam waktu yang relatif singkat yaitu menjadi MT FFAB yang PROFISIONAL RELIGIUS dan MOTIVATOR BESAR.
TAMAT tes KERTOSONO, barulah Risa mempersiapkan diri dengan matang. Belajar dari pengalamannya, dia memulai tugas. Saat Risa memulai tugas sebagai seorang MT, ia harus bergulat dengan sejumlah tantangan dan hambatan. Akhirnya ia mampu menyelesaikan tugasnya, dan di situ pula ia dilamar seorang pria yang melamarnya. Orangtua, saudara serta teman-temannya kurang setuju dengan keputusan Risa. Risa saat itu usianya sangat muda, sedangkan si pria adalah seseorang yang namanya selalu disembunyikan di balik hati Risa ketika di bangku putih abu-abu, pria itu memiliki usia yang muda dan ia hanyalah MT yang sama meritis kehidupan yang akan datang. Padahal Risa masih memiliki kesempatan banyak untuk merangkai masa depannya. Namun, satu alasan yang membuat Risa meyakinkan kedua orangtuanya yaitu adanya butuh peramutan akan kehidupan yang kejam ini terutama tentang pergaulan bebas dan ia akan memliki “KOMITMEN” antar calon belahan jiwanya untuk siap meramut dan tetap melanjutkan pendidikan selanjutnya. Akhirnya Pernikahan itu pun terlaksana, dan ia merintis kehidupan bersama sang suami. Baginya suami adalah imam sekaligus penyemangat hidup yang menjadikannya selalu bersmangat dan pantang menyerah, serta membawanya ke surga nanti dengan arahan dari sang suami. sehingga ia merasa lebih bebas dan lebih berani mengambil risiko. Tanpa merasa terlalu terbebani dengan kemungkinan gagal atau keharusan untuk berhasil, Risa lebih memilih untuk memfokuskan diri pada pengalaman dan pelajaran yang ia bisa dapatkan selama fase-fase kehidupannya. Tapi Risa sudah membulatkan tekad. Ia berjualan 14 JAM DALAM SEHARI begitupun sang suami yang menekuni Bisnisnya. dan belum lagi pendapatan yang tidak pasti. Membuatnya terpaksa berhemat untuk mengatur kebutuhan sehari-hari.
Sampai akhirnya ia melanjut kuliahnya di UI “Universitas Indonesia” dan mengambil jurusan Psikolog, di semester ke 3 ia diangkat sebagai Asisten dosen. Hingga ia sarjana dan mendapatkan Beasiswa ke belanda untuk melanjutkan S2nya, begitupun sang suami yang sukses di bisnisnya dan mampu membuka lapangan kerja. Sang suami pun menemani Risa untuk melanjutkan S2 di belanda sambil mengembagkan Bisnisnya di belanda.
Dan dalam jangka dekat Risa ditawarkan menjadi dosen di berbagai cabang universitas bahkan negara. Risa pun memiliki angan-angan ingin membuat lembaga sensitive training dengan logo “tune in heart”. Dan akhirnya bercabang ke berbagai negara dan memiliki induk di 10 negara terkenal yang di ketuai negara Indonesia. Perkumpulamn ini bukanlah perkumpulan orang-orang kaya, kuat, hebat bahkan pintar. Namun di sini terkumpulah oarng yang lebih terlihat kekurangannya, salah satunya adalah orang yang memiliki penyakit HIV AIDS. Baginya tidak ada penyakit yang tidak bisa di sembuhkan karena kebahagiaan tidak akan pernah berakhir, permasalahan tiada pernah puncaknya. Tahap demi tahap akhirnya terbukalah celah untuk menemukan obat dari penyakit HIV AIDS. Dan Risa pun dijuluki, profesor. Keberhasilannya itu tidak membuat Risa lupa akan tanah kelahirannya yaitu Bumi pertiwi Indonesia tempat dimana dia di lahirkan di besarkan dan tempat dimana ia belajar tentang kehidupan. Akhirnya Risa kembali ke Indonesia dan mengembangkan keinginannya yang sempat tertunda yaitu merintis “Politikus berkerah Putih” sebagai generasi Indonesia yang Profesional dan relgius. Dengan cara ia mencoba menghubungi temen-temannya dan yang pasti tak terlupakan yaitu teman-temannya di masa putih abu-abu tertama keluarga tune in heart dan alumni Spesial class dan SMA BUDI UTOMO. Dan semuanya tersusun dan berjalan barokah.
===================
Judul : Mimpi Sang Laskar Musyafir
Pengarang : Nisaus
Nama Fb : Nisaus sholeha




Laskar musafir ( tanpa "y")
BalasHapusTeruslah berjuang !
bergaullah dengan orang-orang yang membuat anda bisa menemukan potensi-potensi anda
Siap mas musafir, akan diedit oleh admin. mas musafir bisa ngasih link tulisan2 yang lebih banyak? dishare donk.
Hapus