Cerpen www.penulistop.com - Nama saya Arini Destianti. Aku dilahirkan dari seseorang yang berhati malaikat yang sering ku panggil IBU. Terlahir sebagai anak yang tidak normal bukanlah keinginanku. Siapapun itu, pasti tidak ingin bernasib sama sepertiku. Memiliki jari tangan yang tidak sempurna, pernah membuatku merasa minder dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil terhadapku.
Meskipun saya memiliki keterbatasan, tetapi aku tetap berusaha hidup normal seperti anak-anak yang lain. Sejak kecil, saya selalu mendapat cemohan dan ejekan dari teman-teman. “Si Alien”, itulah julukan yang aku sandang. Bahkan setiap hari ejekan itu selalu saya dengar. Kadang saya tidak bisa membendung air mata saya mengalir di pipi. Sampai suatu saat suara-suara mereka sudah membuatku kebal.
Meskipun saya tidak sempurna seperti anak-anak lain yang seusiaku, tetapi saya sangat bersyukur masih bisa di terima sekolah seperti anak-anak normal lainnya. Sekarang saya sudah duduk di bangku kelas 3 SMP. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar, saya sering pulang sekolah dengan air mata yang membasahi pipiku. Kala ketika saya pulang sambil menangis, ibu selalu menasehati dan menyemangati saya. “Sayang kamu tidak usah bersedih dengan omongan teman-teman kamu, di mata ibu kamu adalah anak yang sempurna, Tuhan tidak pernah membeda-bedakan hambanya, dan ibu sangat bangga terhadapmu, kamu adalah anak spesial yang Tuhan titipkan ke ibu dan ayah, kamu telah membuktikan bahwa kamu itu tidak beda dengan yang lainnya, di sekolah kamu bisa berprestasi dan mengalahkan teman-temanmu yang normal lainnya”. Ibu selalu menangis sambil mengusap kepalaku ketika sedang menasehatiku.
Yah, meskipun terlahir dengan keterbatasan yang kumiliki, tetapi itu sama sekali tidak menghalangiku untuk berprestasi dan mencapai cita-citaku. Tentu saja saya harus belajar dengan tekun dan giat serta tidak lupa untuk berdoa kepada Tuhan.
Hari ini saya memasuki dunia baru. Sekarang saya tidak memakai seragam putih biru lagi, kini telah berubah menjadi putih abu-abu. Yah, katanya waktu SMA tidak dapat terlewatkan begitu saja. Di lingkungan yang baru ini saya harus menyesuaikan diri lagi dengan teman-teman baru. Tidak sedikit sayup-sayup terdengar bisikan tentang aku dari orang-orang sekitar. Berusaha tegar dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan hanya berusaha tampak terlihat ceria di depan semua orang, itulah yang saya lakukan.
Saat pengenalan sekolah dan ektrakulikuler, aku terdiam dan berpikir, ekstrakulikuler mana yang nantinya saya mau ikuti. Apakah orang-orang itu bersedia menerimaku dengan keterbatasan ini?
“Hai, kamu mau ikut ekstrakulikuler apa?”. Sapa suara itu dari belakang.
“Aku belum tau mau ikut ekstrakulikuler atau tidak?”. jawabku sambil berbalik dan melihat orang-orang sekeliling yang sedang sibuk memilih ekstrakulikuler.
“Kok kamu belum tentuin sih? Ngomong-ngomong kamu suka nulis nggak?”. dia bertanya sembari senyum manis di wajahnya.
“Iya, aku suka banget malah”. Jawabku sambil membalas senyumnya. Bahkan jari-jari tanganku tidak lengkap, tetapi aku diberi anugerah oleh Tuhan untuk bisa menulis seperti anak-anak normal lainnya.
“Kalau gitu, kamu gak usah galau dan bingung lagi. Ikut ekstrakulikuler yang sama denganku saja, KIR (Karya Ilmiah Remaja)?”. Kelihatannya dia sangat bersemangat mengajakku.
“Mmmm… iya deh, bisa juga”. Jawabku tak yakin sambil menggigit bibir menatapnya.
“Oke ayo ikut”. Dia tiba-tiba saja menarik tanganku. Sontak aku kaget dan merasa malu dengan keadaanku. Lagi-lagi kutatap wajahnya itu, begitu gagah dan berkharisma. Setidaknya itulah penilaian pertamaku tentang dia. saran biasanyakan Remaja selalu nilai fisik dulu. Tapi aku gak peduli, yang paling penting dia baik dan bisa menerima aku apa adanya sebagai temannya.
“Hei kamu kok liat aku begitu? Oh yah, aku lupa kalau dari tadi kita ngobrol tapi kok belum kontak? Nama aku Andre”. Dia tersenyum sambil ngulurin tangannya ke aku.
“Nama saya Arini”. Dengan gugup dan malu kubalas uluran tangannya itu.
Baru kali ini, ada seorang teman yang terlihat ihklas dan ramah ngulurin tangannya untukku. Rasanya saya ingin menitikan air mata karena terharu. Andre adalah teman pertamaku. Berharapa pertemanan kami ini bisa langgeng selamanya atau bahkan bisa lebih dari sekedar teman.
Yah, meskipun saya memiliki kekurangan fisik, tetapi saya juga memiliki perasaan seperti anak-anak lainnya. Hati saya juga bisa bergetar merasakan jatuh cinta dan detak jantung yang tidak normal ketika sedang ditatap seorang laki-laki.
Sekarang sepulang sekolah, wajahku tidak lagi kusut seperti biasanya. Kini wajahku berseri-seri karena ada Andre yang sudah mewarnai hari-hariku. Dia sangat baik terhadapku. Kadang aku berpikir salah mengartikan kebaikan Andre itu. mungkin aku telah jatuh cinta padanya. Yah, meskipun aku tidak tahu isi hatinya terhadapku. Tapi aku merasa bahwa dia juga merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan.
Mungkin dia adalah anugerah dan hadiah terindah yang Tuhan kasi kepadaku. Berkat ajakan Andre, saya bisa ikut dan bersosialisasi dengan teman-teman lain di kegiatan ekstrakulikuler KIR. Aku sangat senang bisa ikut kegiatan ini. Selain itu, saya juga mendapat juara pertama dalam penulisan karya ilmiah di sekolahku.
Hari-hariku selalu kuhabiskan bersama Andre. Karena memang dialah satu-satunya sahabatku di sekolah. Entah bagaimana hari-hariku di sekolah kalau Andre gak ada. Aku tidak bisa membayangkannya.
Tidak terasa masa-masa SMA kami telah berakhir. Sebentar lagi saya akan masuk ke Perguruan Tinggi. Saya belum menentukan Universitas mana yang nantinya bakal saya tuju.
Sore itu, sebelum menentukan pilihan saya, saya menemui Andre terlebih dahulu untuk meminta pendapatnya sekaligus berbincang-bincang dengannya tentang Perguruan Tinggi mana yang bakal dia tuju. Tapi, aku merasa ada yang aneh dengan Andre sore itu. Dia tidak banyak bicara dan hanya tunduk terdiam saja.
“Andre kamu kenapa sih, kok diam saja?”. Tanyaku sambil menatapnya
“Maaf Rin, sepertinya kita gak bisa sering bertemu lagi seperti biasanya”. Jawabnya yang hanya tertunduk dan tak mampu menatapku.
“Kok kamu bilang gitu sih? Emang ada apa?”. Tanyaku yang sudah hampir menitikan air mata.
“Sebenarnya, aku gak akan melanjutkan kuliah di sini. Orang tuaku dipindah tugaskan keluar kota. Jadi, mereka ingin aku ikut dengan mereka”.
Mendengar kalimat itu, aku tidak bisa lagi membendung air mataku. Tiba-tiba Andre memelukku erat-erat. Sontak tangisku meledak dalam pelukannya.
“Maafin aku Rin. Aku gak bakal pernah melupakan sahabat sepertimu. Sosokmu tetap akan terukir di dalam hatiku dan itu tidak akan pernah padam selamanya. Aku janji”. Kurasakan air mata Andre menetes membasahi pundakku.
“Aku juga gak bakalan pernah ngelupain kamu. Selama ini Cuma kamu yang selalu berada di sampingku, cuma kamu satu-satunya sahabat yang aku punya di dunia ini.” Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Suaraku terbata-bata karena tangis.
“Jangan pernah lupain aku yah Rin. Saya sayang banget sama kamu Rin. Saya ingin kamu selalu berada di sisiku”. Kalimat itu membuat saya jadi deg-degan. tapi saya gak mau salah mengartikan sayang Andre itu. yah, kami hanya sebatas sahabat.
“Iya Andre, aku juga sayang banget sama kamu. Kamu telah memberi warna di hidupku”. Tiba-tiba dia mengeratkan pelukannya. Aku berharap ini bukan pelukan terakhir yang Andre berikan.
Apakah ini artinya aku benar-benar akan berpisah dengan Andre? Haruskah aku memulai dari awal lagi? Masih adakah orang yang mau menerima aku apa adanya sebagai sahabatnya seperti Andre?
Sekarang saya sudah menjadi seorang mahasiswa Jurusan Sastra. Mungkin tidak ada yang mencemohku seperti dulu lagi. Saya menjalani hari-hariku seperti biasanya dengan teman-teman yang baru. Sekarang saya juga mendapatkan kontrak sebagai penulis di salah satu perusahaan. Meskipun Andre tidak berada di sampingku lagi, tetapi setiap hari komunikasi kami tetap berjalan dengan lancar. Sesekali Andre datang mengunjungiku di hari liburan. Semoga persahabatan kami ini tetap langgeng sampai maut memisahkan kami.
Tuhan benar-benar telah memberikan saya hadiah seorang sahabat sejati. Aku percaya bahwa kebahagiaan itu tidak memilih-milih orang sebagai tempat yang akan ia singgahi. Kesedihan dan air mata akan tergantikan dengan senyuman jika seseorang selalu bekerja keras dan tidak pernah putus asa dengan segala kondisi serta mansyukuri segala sesuatu yang telah didapatkannya.
THE END
====================
Judul Cerpen : Perbedaan Jadi Tidak Berarti
Penulis : Sri Siswati Tahir
Blog : http://srisiswatytahir.blogspot.com/
Sumber : www.cerpenmu.com
Nama: Sri Siswati
Tempat / Tanggal Lahir: Kaluppang-Pinrang, 26 Juni 1993
Jenis Kelamin: Perempuan
Pekerjaan: Mahasiswa
Agama: Islam
Alamat Email: Sri_siswati93@yahoo.com
Facebook: Sri Siswaty Tahir
Twitter : @SiSi199ui
Hobi: writing, listening music, and adventure (many more)




0 komentar:
Silahkan Berkomentar
Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?