Headlines News :

Perjalanan ke Timur

Diposting oleh Admin penulisTOP.com pada Minggu, 08 Februari 2015 | 04.16

Cerpen penulistop.com - Jujur, pada awalnya saya ragu akan perjalanan saya kali ini. Ini kali kedua saya dan teman-teman merencanakan perjalanan ke timur alias Pulau Madura, Sumenep tepatnya. Yang pertama tentu saja mengalami kegagalan dengan 1001 alasan. Kali ini, hampir gagal karena tidak ada supir yang bisa membawa saya dan teman-teman ke Madura hingga seorang teman akhirnya harus meng-import supir dari Madura. Maklumlah meskipun saya mempunyai mobil tetapi saya tidak bisa mengendarainya. Masalah supir beres. Lalu tibalah hari " H " yaitu tanggal 21 Juni, hari keberangkatan kami. 

Rencananya, saya dan empat orang teman ( Baim, Utha, Saroh dan Merli), akan berangkat dari Surabaya pukul 9 pagi, setelah saya mengambil rapot anak-anak (Kebetulan hari itu pas pembagian rapot). Sementara teman saya ,Noevil, telah menunggu di Sumenep untuk menyambut dan mempersiapkan kedatangan kami. Itu sebabnya mengapa kami memilihtravel-writting ke Sumenep karena ada teman kami yang berasal dari sana sehingga bisa menghemat pengeluaran.Hahaha...

Rencana berangkat pukul 9 pagi ternyata meleset. Padahal supir yang di-import dari Madura sudah nongol di depan rumah saya pukul 8 pagi (untung saya sudah pulang dari sekolah kalau tidak kasian supirnya bengong di depan rumah). Saya persilakan pak Parman, nama supir itu, masuk dan menunggu sampai teman-teman datang. Saya beri beliau minum dan sarapan karena dari Madura subuh-subuh mungkin belum sempat makan. Tapi Pak Parman lebih suka menunggu sambil merokok.

Pukul 9 lewat, belum nampak batang hidung dari satu orang temanpun. Saya mulai resah. Pak Parman mulai gelisah. Saya coba mengajak ngobrol dan meminta untuk bersabar menunggu. Saya mulai SMS, WA dan menelpon. Jawabannya "OTW". Klise. Akhirnya Saroh dan Merli datang di penghujung pukul 10 pagi. Tinggal Baim dan Utha. Pukul 10 lewat Utha datang lalu disusul Baim 20 menit kemudian. Tanpa banyak kata saya langsung mengajak mereka berangkat. Akhirnya...

Meskipun perjalanan ini berjudul travel-writting yang artinya jalan-jalan sambil menulis begitu kira-kira, akan tetapi saya lebih tertarik dengan jalan-jalannya daripada menulisnya. Kapan lagi bisa jalan-jalan paket hemat...hehehe...Ya walaupun agak kecewa karena baru berangkat pukul 11 siang padahal tujuan pertama kami setelah menjemput Noevil adalah Pantai Lombang. Konon menurut cerita Noevil yang asli Sumenep, Pantai Lombang adalah satu-satunya pantai Cemara Udang yang ada di Indonesia. Dan hanya ada dua buah Pantai Cemara Udang di dunia. Yang satunya di China. Seandainya berangkat lebih pagi pasti bisa main di pantai lebih lama. 

Ternyata Pak Parmin termasuk golongan supir yang suka memacu adrenalin. Mungkin karena sudah hapal benar dengan medannya. pukul 13.30 kami sudah mulai memasuki wilayah Sumenep. Berhubung perut kami sudah mulai memainkan lagu keroncong maka kami meminta Pak Parmin untuk mampir ke rumah makan. Beliau membawa kami ke rumah makan sederhana di pinggir jalan yang menyediakan menu soto. Ada yang sedikit berbeda dengan soto di rumah makan ini. Tampilan sotonya bening mirip sup. Mungkin memang demikina rupa soto Madura yang asli. Entahlah yang penting perut saya berhenti bernyanyi.

Ketika sedang asyik makan, tiba-tiba ponsel saya menjerit. Ternyata dari Noevil yang menanyakan posisi kami. Saya jawab sedang mampir makan. " Jangan makan banyak-banyak " katanya. Ibunya telah menyediakan makan untuk kami. Saya jawab masih ada makan malam Vil, tenang saja. Lagi pula mungkin saya dan teman-teman sudah lapar lagi saat sampai di rumah Noevil.

Selesai makan saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan. Pak Parman menawari kami untuk melihat karapan sapi yang kebetulan akan kami lewati. Tentu saja saya dan teman-teman tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kapan lagi bisa ke Madura dan melihat karapan sapi secara langsung. Biasanya saya hanya bisa melihat karapan sapi dari televisi atau buku-buku bacaan. Namun agak miris juga melihat sapi-sapi yang dihias sedemikian rupa lalu dipecut berulang-ulang. Ada perasaan takut kalau-kalau si sapi tiba-tiba ngamuk. Menurut cerita Pak Parman, bokong sapi-sapi itu diolesi balsam panas dan ada paku di gagang kemudinya sehingga ketika sapi itu mulai dilepas paku mengenai sapi sehingga membuat sapi berlari lebih kencang. Kasian kau sapi. Yang lebih mencengangkan ternyata joki yang mengendalikan sapi adalah anak-anak. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan orangtuanya.

Lagi-lagi ponsel saya menjerit berkali-kali tetapi saya tidak hiraukan karena tertutup oleh suara riuh penonton karapan sapi. Lagi-lagi Noevil menelpon. Wah arek iki gak sabaran rupanya. Saya balas SMS dan mengabari kami mampir sebentar menonton karapan sapi. pukul 3 sore saya dan teman-teman sampai di rumah Noevil. Ternyata sambutannya luar biasa hangat dan ramah. Kami disuguhi minum dan jajan. Setelah menjamak sholat saya dan teman-teman pamit ke pantai. Tuan rumah memaksa kami untuk makan dulu sebelum ke pantai namun dengan alasan takut kemalaman akhirnya kami pergi tanpa makan.

Jarak ke Pantai Lombang dari rumah Noevil sekitar sejam. Namun perjalanan yang melelahkan itu terbayar ketika saya menjejakkan kaki di pasir putih yang bersih pantai Lombang. Noevil memang tidak membual. Pantai Lombang indah dikelilingi pohon Cemara Udang. Mendadak teman-teman saya menjadi setengah gila. Berteriak dan berlarian bermain ombak. Termasuk putra bungsu saya yang ikut langsung bermain air. Mungkin penulis juga butuh bercumbu dengan alam selain dengan laptop dan pena.

Belum puas sebenarnya saya dan teman-teman di pantai namun hari sudah gelap dan kami harus pulang. Yang penting saya sudah foto-foto supaya bisa pamer dengan teman-teman FLP yang tidak ikut. Hehehe...

Sesampainya di rumah oevil saya dan teman-teman segera membersihkan diri lalu sholat. Makanan sudah terhidang dengan manisnya. Ada bandeng. gule, tahu, tempe, terong dan kerupuk. Saya dan teman-teman makan dengan lahap bahkan ada yang nambah loh. Nikmat mana lagi yang mau didustai. Setelah makan saya dan teman-teman perempuan langsung bobo manis. Saya tidak tau jika Baim dan Noevil berkonspirasi untuk menikmati malam di Sumenep berdua saja. Terlalu...

Hari kedua di Sumenep diisi dengan mengunjunhi Keraton dan Masjid Agung Sumenep di pagi hari lalu berkunjung ke Ponpes Annuqoyah sebelum pulang ke Surabaya. Setelah mandi dan rapih, tuan rumah menyuguhkan kami jajanan khas Sumenep. Namanya Apen (apem jika di Surabaya) kue gurih yang disiram kuah gula aren. Mantab. Setelah habis, kami masih disuruh lagi sarapan nasi goreng. Apen itu bukan sarapan hanya hidangan pembuka alasan tuan rumah. Karena perut kami yang masih penuh dengan memohon maaf kami terpaksa menolaknya dan mengatakan akan sarapan setelah pulang dari keraton. Karena masih pagi dan jarak ke keraton tidak terlalu jauh,kami berjalan kaki.

Entah negosiasi apa yang Noevil tawarkan kepada bapak penjaga tiket karena kami bisa masuk gratis ke keraton. Sama halnya dengan di pantai Lombang, kami juga masuk tanpa bayar. Tidak percuma punya karib asli Sumenep. Setelah puas melihat keraton lanjut ke Masjid Agung. Karena Hikam merengek ingin naik odong-odong akhirnya kami naik odong-odong sebelum ke Masjid Agung. Odong-odong Sumenep lebih menarik daripada di Surabaya.

Setelah dari Masjid Agung kami pulang dengan naik becak. Sesampainya di rumah kami disuguhi makan. Kali ini kami tidak menolak. Selesai makan saya dan teman-teman pamit pulang dan sangat berterima kasih atas kebaikan dan keramahan tuan rumah. Sebelum ke Ponpes Annuqayah kami mampir sebentar ke makam raja-raja Sumenep. Sayang sekali Hikam ketakutan jadi saya tidak bisa masuk ke dalam makam tersebut. Padahal ada kejadian mistis di makam tersebut yang sempat dialami Noevil dan Baim. 

Dari makam lanjut ke Ponpes Annuqayah. Menurut cerita Noevil dan mas Umar Fauzi Ballah, salah satu teman kami yang juga asli Madura, pimpinan Ponpes Annuqayah, Ki M.Faizi juga suka menulis. Bahkan beliau pernah diundang ke Frankfrut Festival di Jerman. Nah ini adalah kesempatan kami mencuri ilmu menulis setelah jalan-jalan. Dalam benak saya, seorang pimpinan Ponpes pastinya sudah sepuh, dengan mengenakan gamis dan sorban putih. Ternyata dugaan saya keliru. Ki M.Faizi masih muda (bahkan hanya terpaut 2 tahun dengan saya) namun jangan tanya soal ilmu dan pengalamannya. Beliau jauh lebih mumpuni. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita Beliau. Karena Beliau pecinta bus, pernah dalam suatu perjalanan dengan bus beliau bisa menulis sebuah buku. Luar biasa.

Hari semakin siang. Kami harus segera pamit dan pulang ke Surabaya karena malam harinya harus menghadiri undangan launching buku bunda Wina Bojonegoro. Lagi-lagi saya dan teman-teman dihadapkan dengan kebaikan dan keramahan khas Sumenep. Apa lagi jika bukan makan. Ki Faizi mempersilakan kami pulang tentu saja setelah menyantap hidangan yang telah disiapkan. Saya jadi berpikir mungkin jika lain kali saya ke Sumenep tidak perlu takut kelaparan karena setiap orang yang saya kunjungi pasti mempersilakan saya makan.

Yah begitulah kisah perjalanan saya dan teman-teman Flp Surabaya selama dua hari di Sumenep. Terima kasih untuk kebaikan dan keramahan Noevil dan keluarga juga Ki Faizi. Ingin suatu saat nanti buku saya dibedah di Ponpes Annuqayah. Insya Alloh jika saya sudah punya buku solo.

===================
Judul : Perjalanan ke Timur
Pengarang : Retno Fitriyanti
Nama Fb : Retno Fitriyanti
Bagikan Tulisan ini :

0 komentar:

Silahkan Berkomentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?

 
Support : www.adakabar.tv | LAZADA | Anda
Copyright © 2015. penulisTOP.com - All Rights Reserved
Publikasikan Karyamu Di Sini Langsung Kirim Tulisan Jutaan Orang Akan Membaca Karya Anda