![]() |
| Ade Purnama |
Cerpen penulisTOP.com - Lukman Faridh, seorang siswa sekolah menengah atas yang apa adanya dan selalu berpikir positif. Dia pintar dan juga cerdas, semua orang di sekolah ini menyukainya. Luk-man memiliki riwayat pendidikan yang tidak biasa, yaitu sekolah dasar 8 tahun dan sekolah menengah pertama 4 tahun. Hal itu membuatnya menjadi siswa yang paling tua diantara siswa lainnya. Kalau saja Lukman tidak dipindahkan ke sekolah barunya saat ini, mungkin di sekolah menengah atas ini pun akan dia selesaikan dalam kurun waktu 4 tahun.
Kalau kalian berpikir Lukman bodoh, oh, tidak. Malah bisa dibilang kalau dia adalah salah satu murid pintar dan rajin di sekolahnya. Buktinya, dia selalu mendapat peringkat tiga besar di kelasnya dan selalu mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik.
Alasan kenapa dia memiliki riwayat pendidikan yang seperti itu adalah, pertama, ketika Lukman masih kelas satu di bangku sekolah dasar, ayahnya yang seorang PNS(Pegawai Negri Sipil) dipindah tugaskan dari kota Jakarta ke kota Lampung. Mau tidak mau, Lukman yang masih berusia enam tahun itu dibawa bersama kedua orang tuanya, karena Lukman adalah anak semata wayang di keluarganya dan sang ibu tidak mau berpisah dengan suami ataupun anaknya. Surat-surat untuk kepindahan Lukman pun segera di urus. Karena bertepatan dengan kenaikan kelas, maka, dalam surat pengantar itu dituliskan bahwa di sekolah barunya, dia akan menjadi murid kelas dua.
Akhirnya, Lukman tiba di tanah Lampung. Sebenarnya, tidak masalah bagi Lukman, mau di Lampung atau di Jakarta, baginya hidup adalah hidup, jalani saja dan tidak usah mengeluh. Lihat, sejak kecil saja sudah memiliki moto hidup. Bagaimana denganmu?
Setelah mengurus kepindahan kantor, akhirnya, tiba saatnya untuk Lukman bisa melihat sekolah barunya. Lukman anak yang pendiam dan hampir tidak pernah tersenyum, mungkin akan sulit mendapatkan teman, terlebih lagi, dia adalah anak pindahan. Begitulah yang ada dalam benak sang ibu. Tapi, ketika sang ibu menunjukan ke khawatiran, Lukman tersenyum pada ibunya seolah berkata, “tidak perlu mengkhawatirkanku, aku akan baik-baik saja.” Dan seketika, sang ibu kembali tersenyum.
Surat-surat dan semuanya telah dipersiapkan oleh sang ayah dengan rapih dalam satu map berwarna merah pucat. Dengan menaiki sepeda ontel, mereka berangkat menuju sekolah baru Lukman. Lukman yang diboncengi ayahnya dibelakang memeluk erat perut ayahnya. Dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang buruk. Dan benar saja, terasa rintik-rintik hujan mengenai wajah sang ayah. Walaupun tidak begitu deras, tapi cukup untuk membasahi pakaian bagian depan sang ayah.
“Lukman, hujannya tidak terlalu besar, jadi, kita tidak perlu berteduh. Paling-paling pakaian ayah saja yang basah, kamu lindungi map merah yang kamu pegang, jangan sampai basah.” Teriak sang ayah di tengah hujan sambil mengayuh sepedanya dengan lebih cepat.
“Baik, ayah.” Jawab Lukman. Pelukan Lukman pada ayahnya semakin erat.
Tidak disangka-sangka, begitu sampai di sekolah hujannya semakin deras. Sang ayah yang mengerti kondisinya langsung menggendong Lukman, lalu berlari sekuat tenaga sampai ke gedung sekolah. Untungnya, jarak dari parkiran hingga ke gedung sekolah tidak lebih dari 50 meter.
Dan sungguh ironis, ketika mereka menemui kepala sekolah dari sekolah tersebut, surat-surat dan rapot sekolah Lukman dari sekolah lama, basah. Tidak nampak lagi tulisan yang tertera pada kertas-kertas itu, sudah seperti kertas sampah. Dan kepala sekolah tidak bisa menerimanya. Akhirnya, Lukman memulai lagi sekolahnya dari kelas satu. Ayahnya merasa bersalah pada Lukman, karena tidak seharusnya membiarkan Lukman yang masih kecil itu menjaga berkas-berkas penting itu. Namun, lagi-lagi Lukman tersenyum, dia menatap ayahnya yang merasa bersalah, lalu dia berkata, “terima kasih, ayah, sudah memberikanku kesempatan untuk mengulang masa kelas satuku, kali ini aku pasti akan mendaptkan peringkat pertama.” Mendengar itu, sang ayah hanya bisa tersenyum bangga pada anak laki-laki semata wayangnya itu.
Alasan kedua. Saat itu, lukman sudah kelas empat sekolah dasar dan dua hari lagi akan diadakan ujian kenaikan kelas, betapa tidak beruntungnya, dia mendapatkan kecelakaan serius yang membuatnya hampir terbunuh. Lukman tertabrak mobil ketika hendak menyebrang jalan. Dan dia tidak sadarkan diri hampir dua bulan lebih lamanya. Karenanya, Lukman tidak bisa mengikuti ujian kenaikan maupun susulan, karena sudah melewati batas waktunya, dan Lukman tidak mendapatkan keringanan dari pihak sekolah. Oleh karena itu dia tidak bisa naik kelas. Padahal dia pintar, selalu berada di peringkat satu dan dua. Tapi, mau bagaimana? Dan apa komentarnya, saat kedua orang tuanya mengatakan dia tidak naik kelas?
“Walaupun aku berada di kelas yang sama, tapi, isi kelas itu akan berbeda. Jadi, pasti akan lebih menyenangkan. Daripada hanya berganti ruangan tapi isi di dalamnya tetap sama, itu membosankan.” Lukman berkata seperti itu sambil tertawa kecil. Dan orang tuanya, hanya bisa tersenyum. Karena semakin hari, anaknya semakin dewasa.
Lalu yang ketiga, ketika Lukman hendak mengikuti ujian kelulusan sekolah menengah pertamanya. Ada dua jenis ujian yang harus di selesaikan Lukman. Ujian sekolah dan ujian nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sungguh ironi, seusai mengikuti ujian sekolah, Lukman jatuh sakit, ia terkena typhes dan harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Setelah dua minggu, sehari setelah dia keluar dari rumah sakit, dia sudah harus mengikuti ujian susulan. Mengerjakan soal ujian langsung di pemerintahan, dengan pengawas langsung dari pemerintahan itu juga.
Lukman yang merasa masih kurang sehat tetap memaksakan diri untuk tetap mengikuti ujian tersebut, dengan harapan, akan bisa lulus walau hanya dengan nilai yang pas-pasan. Dan ternyata, bukan nilai pas-pasan yang ia dapatkan. Melainkan nilai yang jauh di bawah nilai rata-rata kelulusan. Padahal, syarat untuk kelulusan adalah siswa dapat mengikuti dan menyelesaikan soal-soal ujian dari sekolah dan ujian nasional dengan baik dan benar. Karena ujian nasional Lukman tidak lulus, maka, lagi-lagi Lukman harus mengulang sebagai kelas tiga sekolah menengah pertama.
Yang lebih menyedihkan lagi, ketika ibu Lukman mendengar kabar bahwa anaknya tidak lulus, ibunya langsung shock lalu terkena serangan jantung. Dan tidak lama, ibunya meninggalkan Lukman untuk selama-lamanya. Dan saat itu, itulah pertama kalinya Lukman menangis setelah sekian lama—terakhir kali ketika ia berusia lima tahun.
Semenjak kejadian itu, Lukman bertekad dalam hatinya, “itu adalah terkahir kalinya aku mengalami kegagalan. Mungkin akan sulit, tapi aku akan berusaha. ”
Itulah alasan kenapa Lukman memiliki riwayat pendidikan yang tidak biasa. Dan sekarang, dia sudah duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Walaupun sebagai murid pindahan, dia tetap semangat, karena di sekolahnya yang lama, dia hampir saja dikeluarkan. Bukan karena ulahnya, tapi, saat itu dia di jahili oleh dua siswa bandel dari kelas lain. Karena Lukman merasa mereka sudah berlebihan, akhirnya Lukman menghajar kedua siswa bandel itu. Dan yang mengesalkan, kedua siswa itu melaporkan kejadian itu pada orang tua mereka. Mereka menuntut agar Lukman di keluarkan, atau di penjara. Dan lagi-lagi, mau tidak mau, akhirnya Lukman mengalah dan akhirnya pindah sekolah.
Hal itu tidak membuat Lukman kesal atau marah, malah, itu membuat Lukman senang. Karena bagi Lukman, “lebih baik diganti dalamnya—dengan yang lebih baik—daripada luarnya yang di ganti, tapi isi di dalamnya tetap sama—tidak lebih baik. Dan hidup adalah hidup, jalani saja, tidak usah mengeluh.”
==================
Judul : Positif Thinking
Pengarang : Ade Purnama
Nama Fb : -
Juga Dipublish : www.komunitaspenulismuda.com




0 komentar:
Silahkan Berkomentar
Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?