Headlines News :

INDONESIA TAHUN 2100 Part 2

Diposting oleh Admin penulisTOP.com pada Senin, 16 Maret 2015 | 18.34

“Mau makan apa kita?”, tanya isteriku, “Ratusan juta orang antre ingin jadi PNS, bapak malah berhenti. Apa jeleknya jadi PNS rendahan? Biarlah gaji pas-pasan, yang penting ada jaminan di hari tua ketika pensiun”

Aku sengaja tak menjawab celoteh istriku. Terpikir olehku jadi tukang parkir di mal depan rumah saja, gajinya lebih besar dan jelas-jelas tidak ada potensi untuk korupsi. Ya, dalam lima tahun terakhir berpuluh-puluh mal dan pusat perbelanjaan memang sengaja didatangkan oleh tangan kuasa untuk menutupi seluruh sawah dan perkarangan di kampung kami. Terutama sejak pemerintah---melalui undang-undang dan pasal “pesanan”--- mempersilahkan seluas-luasnya bagi para kapitalis untuk menghisap darah rakyat.

Alat-alat berat, buldozer, mesin-mesin canggih dan pekerja-pekerja yang terbuat dari besi dan baja tak pernah berhenti berdentum siang-malam. Aku masih ingat betapa kebun warisan nenek aku jual untuk menyuap petinggi-petinggi DPRD agar aku diterima jadi PNS--- sekalipun dalam praktiknya jadi tukang sapu, bahasa keren-nya Cleaning Service----delapan tahun lalu. Apa boleh buat? Sekarang zaman PNS, yang penting santai, senang dulu baru susah kemudian. Biarlah anak-cucu yang sengsara membayar hutang negara.

Di bekas kebun itu, campuran kasar berupa beton dan cor yang terdiri dari semen, pasir dan kerikir terus menghantam keras-keras, tidak hanya ke tanah, tapi juga ke dada dan kepalaku, hari demi hari. Kebun itu direnggut paksa jatidirinya, diputus masa lalunya yang subur-gembur. Semua kehilangan masa lalu dan sejarahnya: ribuan ton pasir digerus dari sungainya, ribuan ton kerikil dihancurkan dari kesatuan batunya, jutaan sak semen diperas dari buminya. Mal-mal dan gedung-gedung congkak itu menutup semua energi hidup yang dulu tumbuh hijau di kebunku. Aku menyesal, sangat menyesal, bahkan ketika nenek meninggal, meninggalkan kesedihan pada semua yang di tinggal, arwahnya tidak akan tanang melihat kenyataan ini.

***

“Lo, kenapa tidak masuk kerja?”, tanya pak Kiswandi sambil nyeruput kopi. Pagi itu kami tanpa sengaja bertemu di jalan. Dia lantas mengajakku ke rumahnya.

“Saya berhenti jadi PNS”

“Lo, kok aneh? Kenapa?”

“Sudahlah. Pak. Saya sedang benci dengan kata-kata ‘kenapa’. Isteri saya tiap hari ratusan kali bertanya kenapa”

“Kalau begitu pertanyaan saya ganti: ada apa dengan PNS, kok berhenti?”

“Malas, saya nyogok ratusan juta dulu sampai jual kebun, kok Cuma jadi tukang sapu dan tukang cuci piring di gedung Dewan, delapan tahun lamanya. Tahun lalu saya naik pangkat jadi tukang fotocopy”

“Saya juga tidak habis pikir kenapa ratusan juta orang berbondong-bondong ingin jadi PNS. Ingatlah, alam raya ini adalah satu sistem kesatuan dan kerjasama. Kita memang perlu batu dan bata untuk membangun rumah, itu saja tidak cukup, mesti ada besi,cor,paku, harus ada kayu yang sudah ditanam puluhan atau bahkan ratusan tahun, harus ada genteng yang sudah dibakar sekian waktu, harus ada isi dan perabot rumah yang sudah dipermak, harus ada pintu dan jendela ventilasi. Untuk menguji penghuninya rajin bersih-bersih atau tidak, kita sangat perlu tikus, kecoa dan coro. Untuk mengetahui seberapa tangguh rumah kita, perlu gempa, longsor, banjir dan puting beliung untuk menguji”

“Maksudnya apa itu, Pak?”

“Kita hidup berbangsa bernegara ini tidak hanya butuh negarawan, (poli) tikus, birokrat, teknokrat, ilmuwan, seniman, penyair, ulama dan bromocorah dan mafia-mafia untuk menguji seberapa tangguh negara ini dapat menghadapi masalah!”

Pak kiswandi terlihat sangat bersemangat menyampaikan pikiran-pikiranya. Aku hanya terdiam sesekali sambil manggut-manggut, aku mencoba mencerna kata-kata itu, batinku berujar, jangan-jangan itulah alasan mengapa pak Kiswandi jadi mafia negara dan menggemplang uang rakyat.

“Makanya jadi PNS pun harus pilih-pilih, ya memang kalau umpanya kecil, ikanya juga kecil”, ia melanjutkan

“Bukan itu, pak. Kalau yang penting PNS, akhirnya Cuma jadi tukang fotocopy dan tukang cuci, seperti saya ini, Pak”

“Gajimu berapa?”, tanya Pak Kiswandi

“Dua puluh juta, Pak!”

“Apa?!, di tahun 2100 ini uang dua puluh juta dapat apa? Naik taksi sepuluh menit saja sudah Rp.500,000, minum kopi di warung kecil saja Rp. 100,000, sekarang Kurs Dolllar Rp.199.025, itu artinya gaji kamu Cuma 100 Dollar perbulan. PNS macam apa itu? Pantaslah jika seratus tahun ini setengah penduduk Indonesia lebih betah tinggal di luar negeri sebagai TKI,TKW, dan setengahnya lagi berebut jadi PNS, macam kamu ini!”

“Ya, begitulah, Pak”

“Begini saja, kalau kamu mau, kamu jadi satpam di perusahaan saya, gajinya sepuluh kali lipat dari pada jadi PNS, mau?”

“Pasti saya mau, terimah kasih banyak,Pak. Tapi jadi satpam zaman sekarang kan harus lulusan S-2 dan bersertifikat Toefl bagaimana,Pak?”, aku girang sekali mendengar tawaran itu. Biarlah satpan, yang penting anak-isteriku tak kurang makan

“Alaah, gitu saja kok bingung. Janga pura-pura tidak tahu! Sekarang ijazah sarjana sampai doktoral dijual murah di warung-warung kopi. Untuk mendapatkanya bahkan jauh lebih mudah dari pada membeli pulsa elektrik, bahkan pedagang asongan di terminal dan stasiun pun menjual-obral”.

“Ya, ya, Pak. Maksud saya itu. Zaman sekarang mana ada yang asli, hehehe”

“Besok kamu mulai berkerja.”

***
Baru tiga pekan aku berkerja di perusahaan pak Kiswandi, kami sekeluarga mendapat voucher liburan gratis. Malam hari tanggal 31 Desember 2100 tidak biasanya anak kedua kami yang masih balita menangis malam-malam, mungkin tidurnya tak nyenyak lantaran dua hari ini kami sekeluarga menikmati liburan tahun baru di Bali (yang saat ini sudah menjadi luar negeri), atau mungkin gara-gara suara gaduh dan gegap-gempita perayaan tahun baru. Beberapa menit kemudian setelah diganti popok, isteriku menidurkanya lagi.

Di luar rumah, sekalipun hujan rintik menggerimis tidak benar-benar reda, namun bunyi petasan saling bersahutan dengan suara terompet dan teriakan histeris muda-mudi menyambut datangnya abad ke-22. Entahlah, sepertinya orang-orang terlalu berharap banyak di tahun 2101. Hal ini sangat wajar karena Indonesia sejak merdeka hingga 155 tahun kemudian masih menyandang status negara dengan mutu pendidikan terendah di bawah Timor Leste. Dengan kata lain, Indonesia adalah negara tergoblok se-jagad raya. Namun aku tak bergeming, aku tak tahu apakah harus bergembira bersama mereka di luar sana, sementara di dalam hati tangisan ibu pertiwi berdentum melebihi suara mercon. Hanya tarikan nafas panjang yang menemaniku malam itu. Entahlah kenapa aku justru susah tidur di hotel bintang tujuh?

Aku lepas kaca mata lalu duduk di sofa ruang tengah, tanpa sengaja tangan kiriku memencet remote control dan televisi pun menyala, dan, asataga, betapa kagetnya ketika tayangan TV bukan hanya seputar perayaan tahun baru, tapi tentang kabupaten Sidoarjo, Surabaya dan Gresik yang sudah tenggelam oleh Lumpur Lapindo. Diberitakan bahwa dalam beberapa jam pada malam itu juga kota-kota tersebut sudah menyatu dengan laut Jawa. Hanya monumen Lapindo setinggi 900 meter yang masih terlihat setengah, monumen itu dibangun sejak 2095 dan akan diresmikan tahun 2105 yang akan datang untuk memperingati 100 tahun tragedi lumpur Lapindo.

Aku termangu, lalu tanpa sengaja berteriak, berteriak lagi dan lagi dengan setengah membentak aku panggil isteriku, “Bu, cepat, cepat kemari!”

“Ya, ya, Pak, sebentar! Ada apasih?”, isteriku sampai tergopoh-gopoh sambil merapikan baju

Ini bukan soal kota-kota dan kabupaten yang tenggelam ke laut Jawa, aku jelas prihatin, itu pasti, siapa yang tidak menangis negerinya tenggelam ke dasar lau? Tapi yang lebih memprihatinkan lagi karena mulai malam itu juga bisa di pastikan aku kehilangan rumah dan pekerjaanku, karena perusahaan tempat aku berkerja adalah PT. Lapindo Brantas.


====================
Judul : Indonesia Tahun 20100
Penulis : Winarto Eka Wahyudi
Cerpen ini pernah dipublikasikan di Majalah PASTI IPNU JATIM edisi 4 Januari-Februari 2015
Bagikan Tulisan ini :

0 komentar:

Silahkan Berkomentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?

 
Support : www.adakabar.tv | LAZADA | Anda
Copyright © 2015. penulisTOP.com - All Rights Reserved
Publikasikan Karyamu Di Sini Langsung Kirim Tulisan Jutaan Orang Akan Membaca Karya Anda