Headlines News :

Kekalahan

Diposting oleh Admin penulisTOP.com pada Jumat, 20 Maret 2015 | 07.09

Cerpen www.penulistop.com - Waktu sore kami habiskan dengan bermain voli. Kami bermain tanpa espektasi, hanya karena senang. Dan percayalah, segala sesuatu yang dilakukan dengan hati gembira, hasilnya akan bagus. Demikian kata seorang penulis.

Sebelum main voli, kami melakukan pemanasan dengan berlari kecil mengelilingi lapangan voli sebanyak tujuh kali. Kami juga memutar-mutarkan tangan agar supaya ketika melakukan smash tidak mengalami kram. Pemanasan dilanjutkan dengan passing. Masing-masing pemain bergantian—memberi kesempatan—mengirimkan umpan tinggi tepat di atas kepala lawan untuk kemudian di-smash.

Sore itu, hari Jum’at, kami menambah porsi latihan. Fisik kami genjot dengan berlari naik turun satu anak tangga secara cepat. “Agar lompatanmu tinggi,” kata Suta. Kami juga latihan melakukan servis atas. Untuk partai final, servis bawah menandakan kamu banci. Begitulah mitosnya.

Tak hanya itu, kami juga latihan smash. Satu pemain memberikan umpan pada Rif sebagaitosser untuk diumpankan pada pemain di posisi kiri. Dan, blum, bola masuk dengan kecepatan iblis, menukik ke area pertahanan lawan. “Besok harus seperti ini,” tambah Suta yang kami daulat sebagai kapten tim. Rif mengangguk, persis adegan film kartun Jepang.

2008 adalah tahun penyelenggaraan class meeting yang paling seru. Berbagai perlombaan digelar, mulai dari futsal, basket, ping pong, voli, dan lain seterusnya. Lomba voli paling menyedot animo penonton. Tak kurang dari 30 tim memperebutkan trofi juara dan predikat sebagai tim terbaik 2008.

“Ini bukan hanya soal kalah menang, tapi harga diri,” kataku berapi-api.

“Ini soal hidup dan mati,” sela Sohib.

Kami mengenakan kaos berwarna hijau yang baru selesai dijahit pada malam pertandingan. Di bagian depan tertulis dengan tampan “Tim Voli Madrasah Aliyah” (MA). Di bagian punggung, tertera nomor dan nama pemain. Kami begitu bangga mengenakannya hari itu. Dengan kaos itu, kami seakan bertambah menjadi hebat berkali-kali lipat.

Di partai final menghadapi tim voli SMA, aku telah menyiapkan segalanya. Termasuk persiapan sepatu yang kucuci terlebih dulu. Saat menalinya, bahkan aku merasa penuh percaya diri. Ada juga seorang kawan mencukur rambutnya khusus untuk bermain di final. Tak mengherankan, final MA vs SMA menjadi partai terpanas—big match tahun ini.

Kami, anak SMA dan MA, bersaing dalam hal apa pun. Baik prestasi maupun perempuan tercantik. Kami di MA sangat menonjolkan teman perempuan yang tak enak kalau disebutkan namanya, demikian halnya dengan mereka yang dari SMA.

Pagi itu, musik diputar dengan volume cukup keras. Lagu pop 2000-an, seperti hits Peterpan. Dan entah mengapa, setiap mendengarkan Khayalan Tingkat Tinggi, misalnya, anak-anak menirukan lagu dengan menggerak-gerakkan bibirnya saja—bagi yang merasa suaranya kurang bagus. Seolah mereka merasa menjadi Ariel.

Panitia dari Dewan Siswa pun tak perlu repot-repot mengimbau siswa untuk datang ke area pertandingan. Sampai satpam sekolah pun sudah menyiapkan kursi plastik di dekat lapangan voli. Tentu Pak Satpam tidak ingin ketinggalan menjadi saksi pertandingan terhebat abad ini.

“Yo ndukung MA, tho,” katanya ketika kutanya.

“Halah, nek sing takok Hando paling sampean ngaku dukung SMA,” jawabku.

“Ora-ora, Mas. Aku dukung MA, kok. Semangat yo, Mas.”

“Yo wes nek ngunu, engko nek menang tak traktir mie ayam Mbak Fah.”

Pak Satpam mengangkat jempolnya, tersenyum dengan kumis yang dipilin mirip salah satu bintang film India.

Berbagai alat tabuh disiapkan, juga bendera, dan atribut lainnya. Para siswa berduyun-duyun mendatangi gedung dua lantai MA dan SMA yang waktu itu difungsikan sebagai tribun penonton. Mereka mulai menabuh, persis suasana di stadion Surajaya, Lamongan, markas Persela. Laki-laki perempuan melebur, meneriakkan dukungan paling keras kepada tim kebanggaan masing-masing.

Teriakan pun saling bersahutan. Suara yang melemas berarti lemah dan pantas kalah. Pertandingan final dipimpin Pak Sugrim. Para penonton yang sudah berdesakan—bahkan bergelantungan—di sepanjang pagar lantai dua sudah tidak sabar menunggu pertandingan dimulai.

Saat kedua tim masuk ke lapangan, suara suporter kian bergemuruh. Rasanya tanganku sudah gatal untuk memukul bola. Aku mengincar wajah Hando yang terlihat belagu. Kami bersalaman dan yel-yel mulai dikumandangkan.

Yo ayo ayo Aliyah...kuingin kita harus menang...

Aku terharu mendengarnya. Jangan sampai kalah, batinku. Kami melompat-lompat sebentar, melakukan passing untuk pemanasan. Komentator yang cukup cerewet waktu itu kurasa berhasil telak membawa penonton kesetanan. Ketika bola passing jatuh di dekat suporter lawan, maka kami akan disorak habis-habisan oleh suporter cewek. Itu sama sekali tak masalah.

Pak Sugrim menjelaskan aturan permainan yang sudah kami pahami. Bola servis diserahkan kepada kami atas kesepakatan bahwa kami masih kelas 2 MA, sedang lawan kami, di atas kertas, lebih tangguh karena mereka kelas 3 SMA. Ini pertandingan yang sebetulnya kurang berimbang. Tapi persetan dengan semua itu.

Pak Sugrim meniup peluit. Pertandingan dimulai. Jum servis atas, bola meluncur ke arah kiri permainan lawan. Pemain nomor 5 ragu, bola dibiarkan jatuh meski ia bia menjangkau. Dan benar saja, kondisi fifti-fifti, mereka mengangkat tangan, mencoba mengintervensi wasit bahwa bola keluar. Namun, wasit mengarahkan tangannya ke selatan. Dan suporter MA pun bergemuruh!

Yo ayo ayo Aliyah...kuingin kita harus menang...

Posisi kuda-kuda. Jum servis lagi, bola meluncur ke tiang dekat, diterima dengan baik oleh pemain tengah, dioper ke tosser, kedua penyerang lawan siaga melakukan smash. Tosserlawan mengumpan ke penyerang kanan, kami terkecoh, dan blum...sebuah smash kuat masuk telak di jantuh pertahanan. Sial. Suporter SMA bergemuruh.

“Blok siap!” seru Suta.

“Semangat,” teriak seorang suporter, perempuan, dari dekat tiang depan lab IPA. Suaranya begitu akrab di telinga, pelan tapi begitu tajam di pendengaranku. Aku melihatnya. Ia tersenyum padaku.

Pemain nomor 7 servis atas, diterima dengan baik oleh Jum, Rif mengumpan ke Sohib,smash! Bola memantul akibat blok si jangkung David. Namun masih bisa diselamatkan kaki Rif, kini bola mengarah pada Suta yang berada di posisi agak ke belakang. Ia melihatku mengambil ancang-ancang, umpan silang pun diberikan. Agak cukup tinggi. Aku mengamati bola, memperhitungkan detik yang tepat untuk melangkah, melompat, dan mengayunkan tangan sekeras-kerasnya.

Sekarang! Aku berlari, melayang ke depan, berjarak sekitar seperempat meter dari net, menghantam bola tanpa ampun. Bola meluncur menembus blok lawan yang tak berguna itu dan tepat mengenai dada pemain nomor 9. Ia tak siap. Meski masih bisa diselamatkan—dan pemain tadi sampai kesusahan bernapas. Dan bola kembali dengan passing biasa.

“Oke, kali ini tak ada ampun,” batinku. Umpan sekali lagi diberikan tosser, aku mengambil ancang dengan menyisir bagian net. Melompat, smash menyilang, tembus, tepat menyasar leher area permainan lawan. Blum. Perempuan tadi berjingkat kesenangan. Suporter MA bergemuruh. Jual beli serangan dilakukan sepanjang set pertama, dan tim MA menang tipis, 22-21.

Namun, hal di luar perkiraan terjadi, tim SMA menggila di set kedua. Smash mereka terasa lebih tajam dan menghantam di interval kedua itu. Tim MA ketar-ketir, pontang-panting menyelamatkan bola. Merasa kehilangan ruh permainan, Jum diganti. Masuklah Kholil.

Tapi, masuknya pemain baru tak menambah daya gedor kami. Tampaknya pada set pertama tim SMA masih menyimpan jurus dan baru mereka keluarkan pada set kedua. Kami kalah 22-18.

Kondisi darurat. Set ketiga hanya sampai angka 15. Kalah berarti berakhir. Berarti malu. Berarti pakai rok. Berarti pulang kampung. Tapi jangan menangis.

Set ketiga dimulai. Semangat tak memberikan arti apa pun pada performa tim MA. Kami justru kedodoran di set ketiga itu. Smash lawan dengan mudah menjebol benteng pertahanan. Lagak sok Hando semakin membuatku benci. Ingin kutonjok mukanya. Usia muda membuat kami emosional hingga kehilangan fokus. Sorakan suporter MA menurun. Akhirnya, kami kalah 15-8. Aku pribadi masih sulit melupakan kekalahan itu.

Aku mengingat kekalahan itu setiap kali melihat kostum hijau yang tergantung di lemariku saat ini. Pemain dengan nomor 22, Syamsul B Islamy. Waktu itu, Pak Satpam meninggalkan area pertandingan dengan air muka lesu. Aku lalu mencari perempuan yang tersenyum saat pertandingan. Aku menemukannya, dan kini ia sudah mengandung anak pertama. (*)

20/3/2015
====================
Judul : Kekalahan
Penulis : Syamsul Badri Islamy
Facebook : Syamsul Islamy
Ditulis dari pengalamannya di tahun 2008 saat duduk di bangku Aliyah
Bagikan Tulisan ini :

0 komentar:

Silahkan Berkomentar

Apa yang kamu pikirkan tentang tulisan ini?

 
Support : www.adakabar.tv | LAZADA | Anda
Copyright © 2015. penulisTOP.com - All Rights Reserved
Publikasikan Karyamu Di Sini Langsung Kirim Tulisan Jutaan Orang Akan Membaca Karya Anda